Penguatan Kolaborasi Multihelix dalam Mewujudkan Kepemimpinan Pancasila untuk Ketahanan Nasional

Brigadir Jenderal TNI Andre Julian S.IP., M.Sos., M.Han melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Penguatan Multihelix Membentuk Kepemimpinan Pancasila guna Ketahanan Politik dalam rangka Ketahanan Nasional”, mengangkat isu strategis mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membentuk kepemimpinan nasional yang berkarakter Pancasila sebagai fondasi utama dalam memperkuat ketahanan nasional. 

Karya ilmiah ini disusun dalam kerangka Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) sebagai bentuk kontribusi pemikiran terhadap dinamika kebangsaan yang semakin kompleks di tengah perubahan global, digitalisasi, dan tantangan sosial politik yang terus berkembang. Penulis menekankan bahwa kepemimpinan Pancasila tidak dapat dibentuk secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi berbagai elemen bangsa. 

Dalam latar belakangnya, dijelaskan bahwa perkembangan teknologi dan arus informasi yang sangat cepat telah membawa dampak signifikan terhadap pola interaksi masyarakat dan pembentukan karakter kepemimpinan. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga memunculkan tantangan berupa disinformasi, polarisasi, dan menurunnya kualitas dialog kebangsaan. 

Konsep multihelix menjadi pendekatan utama yang ditawarkan dalam KKP ini. Model ini mencakup keterlibatan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, media, sektor keagamaan, dan keluarga sebagai elemen penting dalam membentuk kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. 

Penulis menguraikan bahwa kolaborasi multihelix di Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi yang cukup baik, namun implementasinya belum optimal. Banyak kerja sama yang masih bersifat seremonial dan belum menghasilkan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter kepemimpinan nasional. 

Kondisi tersebut diperparah dengan lemahnya kepercayaan antaraktor serta dominasi kepentingan sektoral yang menghambat terciptanya sinergi yang efektif. Akibatnya, proses pembentukan kepemimpinan Pancasila belum berjalan secara menyeluruh di berbagai sektor kehidupan. 

Selain itu, penulis juga menyoroti adanya ketimpangan kapasitas sumber daya manusia antar sektor yang memengaruhi kualitas kolaborasi. Perbedaan pemahaman terhadap nilai Pancasila menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tidak optimalnya integrasi nilai dalam praktik kepemimpinan. 

Scroll to Top