Kertas Kerja Perorangan yang disusun oleh Laksamana Pertama TNI Dr. Akhmad Tarmizi, S.T., M.A.P., M.M., M.Tr.Opsla, CFrA, berjudul “Mitigasi Dampak Perubahan Iklim Daerah Pesisir Guna Ketahanan Ekonomi dalam Rangka Ketahanan Nasional” merupakan karya ilmiah dalam Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lemhannas RI Tahun 2025 yang mengkaji secara komprehensif tantangan perubahan iklim di wilayah pesisir Indonesia serta implikasinya terhadap ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional secara menyeluruh.
Perubahan iklim telah menjadi fenomena global yang tidak terelakkan dan membawa konsekuensi multidimensional bagi kehidupan manusia, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang memiliki garis pantai sangat panjang dan ketergantungan tinggi terhadap sumber daya pesisir. Kenaikan suhu global, perubahan pola cuaca, serta peningkatan intensitas bencana hidrometeorologi telah mengubah lanskap risiko pembangunan nasional, khususnya di wilayah pesisir yang menjadi tumpuan ekonomi dan pemukiman masyarakat.
Wilayah pesisir Indonesia menghadapi tekanan berat akibat kenaikan muka air laut, banjir rob, abrasi pantai, serta penurunan muka tanah yang terjadi secara simultan. Kondisi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat seperti perikanan, pertanian pesisir, pariwisata bahari, dan perdagangan lokal yang menjadi tulang punggung penghidupan jutaan penduduk.
Dampak perubahan iklim terhadap perekonomian daerah pesisir tercermin dari meningkatnya kerugian material dan nonmaterial yang harus ditanggung masyarakat dan pemerintah. Kerusakan infrastruktur, hilangnya lahan produktif, terganggunya jaringan transportasi, serta menurunnya produktivitas sektor kelautan dan perikanan telah menurunkan daya saing ekonomi wilayah pesisir dan memperbesar risiko kemiskinan struktural.
Masyarakat pesisir merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena tingginya tingkat eksposur dan sensitivitas terhadap ancaman lingkungan. Ketergantungan pada sumber daya alam yang semakin terdegradasi, keterbatasan akses terhadap teknologi dan modal, serta lemahnya kapasitas adaptasi menjadikan kelompok ini berada pada posisi yang rawan terhadap guncangan ekonomi dan sosial.
Fenomena banjir rob yang semakin sering terjadi di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, seperti Jakarta Utara dan Pekalongan, menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Genangan air laut yang berlangsung lama telah memaksa relokasi penduduk, merusak permukiman dan fasilitas publik, serta menimbulkan beban ekonomi yang besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
