Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., peserta Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXV Lemhannas RI Tahun 2025, menyusun Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Penguatan Ekoteologi Transformasi Sosial di Tengah Krisis Iklim Guna Harmonisasi Etika Budaya dalam Rangka Ketahanan Nasional.” Karya ilmiah ini mengangkat pentingnya integrasi nilai-nilai spiritual, budaya, dan kesadaran ekologis dalam merespons tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. Melalui pendekatan ekoteologi, penulis menekankan bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan moral, sosial, dan kebudayaan yang memerlukan perubahan paradigma dalam pembangunan nasional.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kekayaan biodiversitas yang luar biasa kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim global. Fenomena kenaikan suhu bumi, meningkatnya intensitas bencana hidrometeorologi, serta kerusakan ekosistem menunjukkan bahwa keseimbangan alam sedang mengalami tekanan yang signifikan. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan pada sektor lingkungan, tetapi juga memengaruhi stabilitas sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Krisis iklim yang terjadi saat ini semakin memperlihatkan keterkaitan erat antara aktivitas manusia dan kerusakan lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, deforestasi, serta perubahan tata guna lahan telah mempercepat degradasi ekologi di berbagai wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis berpotensi menimbulkan risiko jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan bangsa.
Dalam konteks tersebut, konsep ekoteologi menjadi pendekatan penting yang menempatkan hubungan manusia dengan alam dalam kerangka spiritual dan moral. Ekoteologi memandang alam sebagai ciptaan yang memiliki nilai sakral, sehingga manusia memiliki tanggung jawab etis untuk menjaga dan melestarikannya. Perspektif ini mendorong perubahan cara pandang dari pola pikir eksploitatif menuju pola pikir yang lebih harmonis dengan alam.
Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk mendukung penguatan ekoteologi. Berbagai kearifan lokal yang berkembang di masyarakat selama berabad-abad telah mengajarkan pentingnya keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Nilai-nilai tradisional tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejak lama memiliki kesadaran ekologis yang tertanam dalam sistem budaya dan kepercayaan mereka.
