Pada tingkat sentra produksi, Smart Warehouse Palawija berbasis koperasi petani diperlukan untuk memperkuat pengeringan, penyimpanan, pengawasan kualitas, dan pengelolaan stok. Pemanfaatan sensor digital dan dukungan pembiayaan logistik diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar petani sekaligus menjaga kualitas komoditas.
Untuk mempertemukan produsen dan pengguna secara lebih efisien, KKP mendorong pengembangan Digital Marketplace antardaerah. Platform ini dapat menghubungkan petani, koperasi, distributor, dan industri melalui informasi harga acuan, ketersediaan stok, kebutuhan industri, serta jadwal pengiriman dari wilayah surplus menuju wilayah defisit.
Khusus untuk kedelai, diperlukan program kontrak produksi dan distribusi nasional yang melibatkan petani dan industri. Melalui kepastian volume, harga, dan waktu penyerahan sebelum musim tanam, petani memperoleh kepastian pasar, sementara industri mendapatkan jaminan pasokan kedelai domestik yang lebih stabil.
Pada akhirnya, penguatan tata kelola distribusi pangan merupakan langkah strategis untuk memperkokoh ketahanan nasional. Melalui integrasi logistik, infrastruktur pascapanen, digitalisasi, penguatan kelembagaan petani, transportasi multimoda, dan kemitraan industri, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem distribusi pangan yang lebih efisien, tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. (IP/GT)
