Dua tahun lalu, karyawannya sempat mengira Pak Karsono (52) mulai aneh. Pemilik usaha mebel di pinggiran Trenggalek itu tiba-tiba asyik memperhatikan layar ponsel di sela-sela waktu kerjanya. Bukan, ia tidak judi online seperti dugaan sebagian orang. Ia sedang mengamati karakter koboy dalam game yang dimainkan keponakannya. Ada sesuatu pada figur koboy Meksiko berkumis tebal dengan sombrero dan ponco itu yang menurutnya menarik. "Coba kita bikin ukiran kayak gini di kursi tamu," katanya pada karyawan. Mereka mengira ia bercanda. Tapi Pak Karsono serius. Ia mulai membuat sketsa, menyesuaikan dengan gaya ukir khas Trenggalek, dan menghasilkan prototipe pertama. Enam bulan kemudian, kursi tamu koboy itu tidak hanya laku, tapi masuk ke hotel-hotel berbintang dan restoran bertema di Jawa Timur.
Membaca Peluang di Tengah Kejenuhan Pasar
Pak Karsono berkecimpung di dunia mebel sejak 1995. Puluhan tahun ia membuat produk yang sama: kursi tamu ukir motif bunga, daun, dan geometri khas Jawa. Pasarnya tetap ada, tapi persaingan makin ketat. Banyak pengusaha mebel di Trenggalek membuat produk serupa, harga saling banting. Ia merasa perlu sesuatu yang berbeda. "Saya lihat anak muda sekarang suka hal-hal yang tidak biasa," katanya. "Mereka pasang poster koboy di kamar, pakai topi koboy, beli action figure. Saya pikir, kenapa tidak saya tangkap selera ini." Wild Bandito yang ia lihat di ponsel keponakannya menjadi titik terang. Karakter koboy dengan atribut khasnya bisa diterjemahkan ke dalam ukiran kayu.
Menemukan Karakter dalam Serat Kayu
Proses mengukir karakter koboy tidak mudah. Pak Karsono terbiasa mengukir motif simetris seperti bunga dan sulur. Wajah manusia, apalagi dengan ekspresi khas koboy yang macho, butuh pendekatan berbeda. Ia harus belajar lagi. Berminggu-minggu ia menghabiskan waktu hanya untuk membuat satu wajah koboy di atas kayu mahoni. Matanya harus tajam, kumisnya harus tebal, sombrero di kepalanya harus proporsional. Setelah puluhan kali gagal, akhirnya ia menemukan gaya yang pas. Ia tidak membuat figur realistik persis seperti di game, tapi menangkap esensinya: koboy dengan topi lebar, ponco, dan sikap santai tapi waspada. Ukirannya lebih bergaya stilasi khas Trenggalek, tetap terasa lokal tapi temanya universal.
Respons Tak Terduga dari Hotel dan Restoran
Awalnya Pak Karsono menargetkan pasar individu: anak muda yang suka tema koboy untuk kamar atau rumah pribadi. Tapi pesanan terbesar justru datang dari hotel dan restoran. Sebuah hotel di Batu memesan 20 kursi tamu untuk lobby dengan tema koboy. Sebuah restoran di Surabaya yang mengusung konsep Western memesan satu set meja kursi untuk sudut khusus. Para pengusaha ini mencari sesuatu yang berbeda dari furnitur standar pabrikan. Mereka ingin ada sentuhan tangan dan karakter lokal. Kursi ukir koboy Pak Karsono menawarkan kombinasi unik: tema populer global dikerjakan dengan keterampilan tradisional Trenggalek. Harganya pun jauh lebih kompetitif daripada impor.
Apakah ukiran koboy ini laku di pasar lokal Trenggalek?
Awalnya masyarakat lokal agak asing dengan motif ini. Tapi setelah sering dipajang di pameran dan liputan media, banyak warga Trenggalek justru bangga dan mulai memesan untuk hadiah atau koleksi pribadi.
Berapa harga satu kursi tamu ukiran koboy?
Mulai dari Rp1,2 juta hingga Rp3,5 juta tergantung kerumitan ukiran dan jenis kayu. Kayu jati tentu lebih mahal dari mahoni.
Apakah ia membuat karakter lain selain koboy?
Sekarang ia mulai mengembangkan karakter koboy wanita, juga tokoh-tokoh dari cerita rakyat Meksiko lainnya. Tapi koboy dengan sombrero tetap favorit.
Berapa lama waktu pembuatan satu kursi?
Untuk satu kursi dengan ukiran penuh, butuh waktu sekitar 5-7 hari pengerjaan oleh satu perajin. Jika pesanan banyak, ia kerjakan sistem borongan dengan beberapa perajin.
Menjaga Tradisi dengan Tema yang Terus Berubah
Pak Karsono tidak meninggalkan motif ukir tradisional. Di rumah produksinya, ukiran bunga dan daun tetap jalan seperti biasa. Tapi ia menyisihkan 30 persen kapasitas untuk eksperimen tema-tema baru seperti koboy ini. Menurutnya, ini cara menjaga agar keterampilan mengukir tetap relevan. Anak muda pengrajin di desanya jadi lebih antusias karena ada tantangan baru. Mereka tidak bosan. "Saya bilang ke mereka, kalian boleh main game, lihat karakter-karakter keren di sana. Lalu pikirkan bagaimana kalau itu diukir di kayu," katanya. Beberapa karyawan mudanya mulai memberi masukan tentang karakter-karakter populer lain yang potensial.
Estetika Global, Tangan Lokal
Keberhasilan Pak Karsono adalah tentang bagaimana mengambil estetika global dan mengolahnya dengan keterampilan lokal. Karakter koboy Meksiko tidak pernah ada dalam khazanah visual Trenggalek. Tapi tangan-tangan terampil perajin di desanya mampu menghidupkannya di atas kayu jati dan mahoni. Yang dihasilkan bukan sekadar tiruan, tapi interpretasi baru yang punya nilai seni sendiri. Kursi tamu itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat duduk, tapi juga sebagai obyek yang memantik cerita. Setiap tamu yang duduk pasti bertanya, "Ini ukiran koboy ya? Dibuat di Trenggalek?" Dan Pak Karsono selalu tersenyum mendengarnya.
Di usianya yang 52 tahun, Pak Karsono membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari teknologi canggih. Kadang ia datang dari hal sederhana: memperhatikan apa yang disukai anak muda, lalu memikirkan bagaimana keahlian lama bisa meresponnya. Ia tidak perlu berhenti menjadi pengusaha mebel tradisional. Ia hanya perlu sedikit membuka mata pada dunia di luar sana, pada game-game yang dimainkan keponakannya, pada karakter-karakter asing yang lewat di layar ponsel. Lalu dengan tangannya yang terbiasa memegang pahat, ia mengukirnya menjadi sesuatu yang baru. Kursi koboy itu kini duduk manis di lobi hotel, di sudut restoran, di ruang tamu rumah-rumah modern. Dan di setiap serat kayunya, ada cerita tentang Trenggalek, tentang ketekunan, dan tentang keberanian keluar dari pakem yang sudah mapan.