Dua tahun lalu, Sutrisno (45) masih setia dengan motif batik tradisional Pacitan—kawung, parang, dan sekar jagad yang diturunkan leluhurnya. Usahanya berjalan biasa saja, tidak naik, tidak turun. Hingga suatu malam, saat menemani anaknya bermain game di ponsel, ia tertegun melihat visual halilintar menyambar di layar. Bukan kemenangan yang ia perhatikan, melainkan bentuk petir itu: dinamis, bercabang tajam, dan terasa begitu berwibawa. Keesokan harinya, ia mulai mencoba memindahkan bentuk petir dari dunia digital ke atas selembar kain putih. Ia tidak tahu saat itu bahwa motif "Petir Zeus" yang ia ciptakan akan menjadi primadona baru di kalangan pejabat dan kolektor batik tanah air.
Proses Kreatif yang Lahir dari Pengamatan Visual
Sutrisno bukanlah pemain game aktif. Ia hanya sesekali melihat apa yang dimainkan anak-anaknya. Tapi sebagai perajin batik yang terbiasa mengamati bentuk dan pola, visual dalam game tersebut menarik perhatiannya. "Petirnya beda. Bukan petir biasa yang lurus patah-patah, tapi bercabang banyak dan terasa punya tenaga," kenangnya. Ia mulai membuat sketsa di atas kertas, menangkap gerak cahaya yang menyambar dari langit buatan dalam layar. Proses mencanting motif baru ini tidak mudah. Ia harus berkali-kali membongkar pola karena goresan malam tidak mau mengikuti bentuk petir yang rumit. Butuh tiga minggu sebelum ia berhasil menyelesaikan satu lembar kain utuh dengan motif Petir Zeus pertama di dunianya.
Ketika Pejabat Lebih Tertarik Motif Kontemporer
Awalnya Sutrisno ragu membawa motif anyar ini ke pasar. Ia khawatir penggemar batik klasik akan menganggapnya kurang berbudaya. Tapi respons justru datang dari arah tak terduga. Seorang pejabat pemkab yang melintas di stan batiknya dalam sebuah pameran lokal berhenti cukup lama di depan kain bermotif petir itu. "Ini batik apa, Mas? Kok motifnya unik, seperti petir tapi terasa mewah," katanya. Pejabat itu membeli dua lembar untuk koleksi pribadi. Sejak saat itu, pesanan mulai berdatangan, tidak hanya dari kalangan birokrat, tapi juga pengusaha dan kolektor batik yang jenuh dengan motif konvensional. Mereka merasa motif Petir Zeus membawa nuansa baru: modern, bertenaga, tapi tetap dikerjakan dengan tangan dan canting tradisional.
Membaca Gelombang Pasar dengan Cara yang Berbeda
Keberhasilan Sutrisno sebetulnya sederhana: ia membaca gelombang pasar dengan cara yang tidak biasa. Saat perajin lain sibuk mempertahankan pakem, ia justru mengambil inspirasi dari luar tradisi. Ia melihat bahwa kalangan profesional dan pejabat—konsumen batik kelas menengah atas—mulai mencari sesuatu yang berbeda. Mereka ingin batik yang tetap elegan tapi tidak itu-itu saja. Motif petir dengan segala dinamikanya memberikan kesan maskulin, tegas, dan progresif. Cocok dengan citra yang ingin dibangun para pejabat dan pengusaha. Tanpa sadar, Sutrisno telah menemukan celah pasar yang selama ini terlewatkan oleh perajin lain.
Dua Dunia yang Bertemu dalam Satu Kain
Dalam setiap lembar batik Petir Zeus yang ia produksi, ada dua dunia yang bertemu. Dunia tradisi dengan canting, malam, dan pewarna alami. Dan dunia digital dengan visualnya yang liar dan dinamis. Sutrisno tidak pernah berpikir bahwa game yang biasa dimainkan anak-anaknya bisa membawanya pada terobosan ini. "Dulu saya larang anak main game. Sekarang saya malah minta tolong ia tunjukkan gambar-gambar keren di game-nya," katanya tertawa. Ia mulai rajin bertanya pada anaknya tentang visual-visual baru yang muncul. Kadang ia mendapat ide dari bentuk naga, kadang dari pusaran cahaya. Semuaya ia coba interpretasi ulang dengan bahasa batik yang ia kuasai.
Mempertahankan Jiwa Batik di Tengah Kebaruan Motif
Kendati motifnya kontemporer, Sutrisno tetap mempertahankan proses tradisional. Ia tidak menggunakan cap atau printing. Setiap goresan petir tetap dibuat dengan canting, satu per satu. Pewarna yang digunakan juga sebagian besar dari bahan alami: kulit soga, kayu tegeran, dan indigo dari desa tetangga. Menurutnya, justru kombinasi inilah yang membuat karyanya menarik bagi pejabat. Mereka mendapatkan desain yang modern, tapi tetap menghargai proses panjang yang dikerjakan tangan-tangan terampil. Nilai seni dan kerajinan tetap terjaga, hanya visualnya saja yang diperbarui.
Apakah motif batik dari inspirasi game ini diterima di komunitas batik tradisional?
Sebagian menerima dengan antusias karena dianggap membawa angin segar. Sebagian lain masih memandangnya sebagai penyimpangan dari pakem. Tapi Sutrisno tidak terlalu ambil pusing, selama peminatnya ada dan ia tetap menghormati batik klasik sebagai akar budayanya.
Berapa harga batik motif Petir Zeus buatan Sutrisno?
Kisaran harga mulai dari Rp500 ribu hingga Rp2,5 juta tergantung kerumitan motif dan jenis kain. Untuk bahan sutra dengan pewarna alam dan proses pengerjaan lebih dari dua minggu, harganya bisa mencapai Rp3,5 juta per lembar.
Apakah motif ini hanya laku di kalangan pejabat?
Awalnya iya. Tapi setelah beberapa kali liput media lokal, pesanan mulai datang dari pengusaha, seniman, bahkan anak muda yang ingin tampil beda di acara pernikahan.
Apakah Sutrisno khawatir motifnya ditiru perajin lain?
Ia tidak terlalu khawatir. Menurutnya, setiap perajin punya ciri khas masing-masing dalam mengeksekusi motif yang sama. Yang membedakan adalah kualitas pengerjaan dan rasa yang ditanamkan dalam setiap goresan canting.
Keberhasilan Sutrisno mengajarkan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja—dari layar ponsel anak, dari visual game yang berlalu cepat, atau dari hal-hal kecil yang sering kita abaikan. Ia tidak perlu keluar dari kampungnya atau mengubah total cara ia bekerja. Ia hanya perlu membuka mata pada dunia di sekitarnya, lalu menerjemahkannya dengan bahasanya sendiri. Di usianya yang 45 tahun, ia membuktikan bahwa tradisi tidak harus mati di makan zaman. Ia bisa diajak berdialog dengan hal-hal baru, menghasilkan sesuatu yang tak terduga. Dan ketika batik Petir Zeus dikenakan seorang pejabat di acara resmi, ada secuil kebanggaan yang dirasakan Sutrisno. Bukan karena namanya disebut, tapi karena ia berhasil membuat sesuatu yang dulu hanya ada di layar, kini bisa hadir di tengah kehidupan nyata, dikenakan, dihargai, dan diceritakan kembali pada orang-orang di sekitarnya.