{"id":983,"date":"2026-01-14T14:16:31","date_gmt":"2026-01-14T07:16:31","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=983"},"modified":"2026-02-02T14:17:35","modified_gmt":"2026-02-02T07:17:35","slug":"mitigasi-dampak-perubahan-iklim-di-pulau-terluar-sebagai-pilar-kesiapsiagaan-bencana-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=983","title":{"rendered":"Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Pulau Terluar sebagai Pilar Kesiapsiagaan Bencana Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang berdampak langsung pada ketahanan nasional, khususnya di wilayah pulau terluar Indonesia. Hal inilah yang menjadi fokus utama Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul <em>\u201cMitigasi Dampak Perubahan Iklim di Pulau Terluar Guna Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana\u201d<\/em> yang disusun oleh Laksamana Pertama TNI, Nouldy J. Tangka, S.A.P., M.Tr.Opsla., CHRMP., sebagai peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Lemhannas RI Tahun 2025. Taskap ini mengangkat Pulau Miangas sebagai lokus kajian sekaligus representasi tantangan nyata pulau-pulau terluar dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan bencana.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki ribuan pulau kecil dan terluar yang memegang peran penting dalam menjaga kedaulatan wilayah. Namun di sisi lain, pulau-pulau tersebut berada pada tingkat kerentanan yang tinggi akibat keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, dan kapasitas kelembagaan. Pulau Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, menjadi contoh konkret bagaimana posisi strategis geopolitik justru berbanding lurus dengan kerentanan ekologis dan kebencanaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi seperti badai tropis, gelombang tinggi, abrasi pantai, dan kenaikan muka air laut. Dampak tersebut dirasakan secara langsung oleh masyarakat Miangas yang sangat bergantung pada ekosistem pesisir untuk keberlangsungan hidupnya. Ketidakpastian cuaca tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga memengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat setempat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Taskap ini ditegaskan bahwa mitigasi perubahan iklim tidak dapat dipandang semata sebagai isu lingkungan, melainkan bagian integral dari strategi kesiapsiagaan penanggulangan bencana dan ketahanan nasional. Pulau terluar seperti Miangas merupakan garda terdepan negara yang harus dijaga keberlanjutannya, baik dari aspek fisik wilayah maupun keberlangsungan kehidupan sosial masyarakatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi eksisting mitigasi bencana di Pulau Miangas masih menghadapi berbagai keterbatasan. Minimnya sistem peringatan dini, belum tersedianya shelter evakuasi yang memadai, serta terbatasnya jalur dan sarana evakuasi menjadi tantangan utama. Keterbatasan sumber daya manusia dan logistik darurat semakin memperbesar risiko ketika bencana terjadi di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan dan pelayanan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Taskap ini juga mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah mempercepat degradasi lingkungan pesisir di Miangas. Abrasi pantai yang terus berlangsung, penurunan kualitas terumbu karang, serta berkurangnya vegetasi pelindung seperti mangrove berdampak pada menurunnya daya dukung ekosistem pulau. Kondisi ini memperlemah perlindungan alami pulau terhadap gelombang laut dan badai ekstrem.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari perspektif sosial-ekonomi, masyarakat Miangas menghadapi kerentanan ganda. Ketergantungan yang tinggi pada sektor perikanan membuat pendapatan masyarakat sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Ketika gelombang tinggi menghalangi aktivitas melaut, ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga pun ikut terancam. Hal ini menunjukkan bahwa mitigasi iklim harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi adaptif masyarakat lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini menekankan pentingnya pendekatan berbasis sistem sosio-ekologis, di mana hubungan antara manusia dan lingkungan dipahami sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi. Penguatan mitigasi perubahan iklim di pulau terluar tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan harus melibatkan integrasi kebijakan lingkungan, kebencanaan, pembangunan daerah, dan pertahanan negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Kerangka ketahanan nasional yang dikembangkan Lemhannas RI melalui konsep Astagatra menjadi landasan penting dalam analisis ini. Dampak perubahan iklim di Pulau Miangas tidak hanya menyentuh aspek geografi dan sumber daya alam, tetapi juga memengaruhi demografi, ekonomi, sosial budaya, hingga stabilitas keamanan wilayah perbatasan. Oleh karena itu, mitigasi iklim harus diposisikan sebagai investasi strategis jangka panjang bagi ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kajiannya, penulis menyoroti perlunya sinkronisasi regulasi dan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. Meskipun Indonesia telah memiliki kerangka hukum yang cukup komprehensif terkait penanggulangan bencana dan perlindungan lingkungan hidup, implementasinya di pulau-pulau terluar masih belum optimal. Kesenjangan ini memerlukan kebijakan afirmatif yang lebih berpihak pada wilayah 3T.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas. Modal sosial yang masih kuat di Miangas, seperti budaya gotong royong, merupakan aset berharga dalam membangun kesiapsiagaan bencana. Dengan dukungan pelatihan, edukasi kebencanaan, dan peningkatan literasi risiko iklim, masyarakat lokal dapat menjadi aktor utama dalam mitigasi dan respons bencana.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Selain itu, pemanfaatan teknologi sederhana namun adaptif menjadi rekomendasi penting dalam Taskap ini. Sistem peringatan dini berbasis komunitas, pemantauan cuaca lokal, serta pemanfaatan data iklim yang mudah dipahami masyarakat dapat secara signifikan mengurangi risiko korban dan kerugian saat bencana terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi pembangunan, Taskap ini mendorong penguatan infrastruktur yang tahan terhadap dampak perubahan iklim. Pembangunan fasilitas publik, permukiman, dan sarana vital di pulau terluar harus mempertimbangkan aspek adaptasi iklim dan risiko bencana, bukan semata-mata pendekatan pembangunan konvensional.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menyoroti peluang pendanaan berkelanjutan melalui skema nasional maupun internasional, termasuk pendanaan iklim dan konservasi ekosistem pesisir. Pulau terluar seperti Miangas memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem karbon biru yang dapat mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara keseluruhan, Taskap ini memberikan gambaran komprehensif bahwa tantangan perubahan iklim di pulau terluar bukanlah isu masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi saat ini. Tanpa langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang terencana, risiko bencana di wilayah perbatasan dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui Taskap ini, penulis berharap dapat memberikan sumbangan pemikiran strategis bagi pengambil kebijakan dalam memperkuat mitigasi perubahan iklim dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di pulau-pulau terluar. Penguatan Pulau Miangas dan wilayah sejenisnya bukan hanya soal melindungi masyarakat lokal, tetapi juga menjaga keutuhan wilayah dan ketahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkelanjutan. (IP\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang berdampak langsung pada ketahanan nasional, khususnya di wilayah pulau terluar Indonesia. Hal inilah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-983","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang berdampak langsung pada ketahanan nasional, khususnya di wilayah pulau terluar Indonesia. Hal inilah [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/983","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=983"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/983\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":984,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/983\/revisions\/984"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=983"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=983"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=983"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}