{"id":953,"date":"2026-01-15T14:33:27","date_gmt":"2026-01-15T07:33:27","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=953"},"modified":"2026-02-24T09:29:55","modified_gmt":"2026-02-24T02:29:55","slug":"perang-asimetris-udara-sebagai-strategi-adaptif-penguatan-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=953","title":{"rendered":"Perang Asimetris Udara sebagai Strategi Adaptif Penguatan Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Marsekal Pertama TNI Ridha Hermawan, S.H., M.Han, peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Tahun 2025, telah menyusun Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul \u201cPengembangan Perang Asimetris Udara Guna Mendukung Perang Gerilya dalam Rangka Ketahanan Nasional\u201d, sebagai kontribusi pemikiran strategis terhadap penguatan sistem pertahanan Indonesia di tengah dinamika ancaman global dan regional yang semakin kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketahanan nasional dalam konteks kekinian tidak lagi dimaknai secara statis, melainkan sebagai kondisi dinamis yang menuntut kemampuan bangsa untuk beradaptasi, bertahan, dan pulih dari berbagai bentuk ancaman. Perubahan karakter perang modern, yang semakin mengandalkan teknologi tinggi dan pendekatan non-konvensional, menuntut adanya pembaruan strategi pertahanan agar negara tetap mampu menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Lingkungan strategis global menunjukkan pergeseran pola konflik dari perang konvensional menuju konflik asimetris, hibrida, dan multidomain. Pemanfaatan teknologi seperti pesawat tanpa awak, sistem persenjataan presisi, peperangan siber, dan operasi informasi memungkinkan pihak dengan sumber daya terbatas untuk menantang kekuatan militer yang lebih unggul. Fenomena ini menjadikan perang asimetris sebagai alternatif strategis yang relevan bagi banyak negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Kawasan Indo-Pasifik, khususnya Laut China Selatan dan isu Taiwan, menjadi contoh nyata meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan. Rivalitas kekuatan besar, pembentukan aliansi militer, serta peningkatan aktivitas militer di wilayah tersebut menuntut Indonesia untuk memiliki kesiapsiagaan pertahanan yang adaptif dan berlapis, sesuai dengan posisi strategisnya sebagai negara kepulauan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks tersebut, Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta tetap menjadi fondasi utama pertahanan negara. Namun, sistem ini perlu ditransformasikan agar mampu menjawab tantangan kontemporer. Pengembangan perang asimetris udara dipandang sebagai bentuk modernisasi Sishankamrata yang mengintegrasikan teknologi, sumber daya manusia, dan potensi nasional dalam satu kerangka pertahanan yang efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Perang asimetris udara menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi udara yang relatif murah, fleksibel, dan sulit dideteksi, seperti <em>Unmanned Aerial Vehicle<\/em> dan drone taktis. Strategi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kekuatan konvensional, melainkan sebagai pelengkap yang memperkuat daya tangkal nasional, terutama dalam situasi ketidakseimbangan kekuatan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Taskap ini menempatkan perang gerilya sebagai konteks operasional utama dari pengembangan perang asimetris udara. Dengan dukungan teknologi modern, perang gerilya tidak lagi terbatas pada pertempuran darat, tetapi berkembang menjadi operasi multidomain yang memadukan darat, laut, udara, siber, dan informasi secara terpadu dan terkoordinasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengalaman berbagai konflik internasional menunjukkan bahwa pemanfaatan drone dan sistem udara tak berawak mampu mengubah keseimbangan kekuatan di medan perang. Serangan presisi, pengintaian real-time, dan disrupsi logistik lawan menjadi bukti bahwa perang asimetris udara efektif dalam melemahkan superioritas militer konvensional.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keunggulan geografis yang dapat dioptimalkan melalui strategi ini. Luasnya wilayah laut, banyaknya pulau strategis, serta keragaman medan memberikan ruang bagi penerapan operasi udara tak berawak yang sulit diprediksi dan memberikan efek kejut terhadap pihak lawan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, pengembangan perang asimetris udara di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan penguasaan teknologi, ketergantungan pada impor alutsista, serta belum optimalnya integrasi industri pertahanan nasional menjadi kendala struktural yang perlu diatasi secara bertahap dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain aspek teknologi, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan. Pengoperasian sistem udara modern menuntut personel yang terlatih, adaptif, dan memiliki kemampuan pengambilan keputusan cepat dalam situasi kompleks. Oleh karena itu, penguatan pendidikan dan pelatihan menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi kebijakan, Taskap ini menyoroti pentingnya penyusunan doktrin khusus perang asimetris udara sebagai turunan dari Sishankamrata. Doktrin tersebut diperlukan untuk memastikan keselarasan antar-matra dan efektivitas implementasi strategi di lapangan, sekaligus sebagai pedoman operasional yang terstruktur.<\/p>\n\n\n\n<p>Penguatan regulasi dan kerangka hukum juga menjadi landasan penting dalam mendukung pengembangan strategi ini. Peraturan perundang-undangan di bidang pertahanan, pengelolaan sumber daya nasional, dan industri pertahanan memberikan legitimasi bagi pemanfaatan teknologi serta keterlibatan seluruh komponen bangsa dalam sistem pertahanan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Pendekatan perencanaan berbasis skenario yang digunakan dalam Taskap ini memungkinkan penyusunan strategi yang adaptif terhadap berbagai kemungkinan ancaman, baik invasi konvensional, perebutan wilayah strategis, maupun serangan aktor non-negara. Dengan demikian, pertahanan nasional tidak bersifat reaktif, tetapi antisipatif dan proaktif.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengembangan perang asimetris udara juga sejalan dengan upaya mewujudkan kemandirian bangsa di bidang pertahanan. Optimalisasi industri pertahanan dalam negeri dan penguasaan teknologi strategis menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan luar negeri dan memperkuat ketahanan jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif ketahanan nasional, perang asimetris udara bukan semata instrumen militer, melainkan bagian dari strategi nasional yang menyeluruh. Strategi ini berkontribusi pada peningkatan daya tangkal, stabilitas nasional, serta posisi tawar Indonesia di tingkat regional dan global.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui publikasi Taskap ini, Perpustakaan Lemhannas RI kembali menegaskan perannya sebagai pusat diseminasi pengetahuan strategis dan pemikiran kebangsaan. Karya ilmiah ini diharapkan dapat memperkaya khazanah literatur pertahanan nasional serta menjadi referensi bagi pengambil kebijakan dan generasi pemikir strategis dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, tangguh, dan berkelanjutan. (AT\/GT)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Marsekal Pertama TNI Ridha Hermawan, S.H., M.Han, peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Tahun 2025, telah menyusun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-953","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Marsekal Pertama TNI Ridha Hermawan, S.H., M.Han, peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Tahun 2025, telah menyusun [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=953"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/953\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1021,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/953\/revisions\/1021"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}