{"id":918,"date":"2025-11-19T10:19:01","date_gmt":"2025-11-19T03:19:01","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=918"},"modified":"2025-12-01T10:22:40","modified_gmt":"2025-12-01T03:22:40","slug":"optimalisasi-pengelolaan-sumber-daya-kelautan-untuk-ketahanan-pangan-dan-penguatan-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=918","title":{"rendered":"Optimalisasi Pengelolaan Sumber Daya Kelautan untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Penguatan sektor kelautan kembali menjadi perhatian penting dalam kajian strategis nasional melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) karya Kukuh Prabowo, S.I.K., M.H., peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Lemhannas RI, yang mengusung judul <em>\u201cPengelolaan Sumber Daya Kelautan Guna Meningkatkan Ketahanan Pangan Dalam Rangka Ketahanan Nasional.\u201d<\/em> Kajian ini menyoroti urgensi pemanfaatan potensi kelautan Indonesia secara terencana, terukur, dan berkelanjutan sebagai bagian dari strategi besar mewujudkan ketahanan pangan menuju penguatan Ketahanan Nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 6,32 juta km\u00b2 wilayah laut memiliki peluang besar menjadikan sektor kelautan sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional. Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan kontribusi optimal akibat berbagai tantangan seperti illegal fishing, eksploitasi berlebih, kerentanan ekosistem, dan belum meratanya infrastruktur perikanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam Taskap ini dijelaskan bahwa potensi lestari perikanan tangkap Indonesia mencapai 9,3 juta ton per tahun, serta potensi budidaya mencapai sekitar 67 juta ton. Nilai tersebut menggambarkan betapa luasnya peluang pemanfaatan sumber daya kelautan sebagai penopang penyediaan pangan, tidak hanya untuk konsumsi domestik tetapi juga bagi peningkatan daya tawar Indonesia di pasar global.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif Ketahanan Nasional, sektor kelautan tidak semata berfungsi sebagai penyedia pangan, tetapi juga bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional. Data menunjukkan kontribusi sektor perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 2,5% dengan tren peningkatan dari tahun ke tahun, yang mencerminkan peran strategis sektor ini bagi stabilitas nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, ancaman terhadap sumber daya kelautan masih sangat nyata. Illegal fishing menjadi salah satu penyebab semakin menurunnya ketersediaan ikan di beberapa wilayah pengelolaan perikanan. Pada tahun 2024, Indonesia masih menangkap lebih dari 240 kapal pelaku pencurian ikan. Situasi ini menunjukkan pentingnya penguatan pengawasan laut sebagai bagian dari keamanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Selain penangkapan ilegal, perubahan iklim juga memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem laut dan produktivitas perikanan. Perubahan suhu, peningkatan keasaman laut, serta pencemaran wilayah pesisir dapat menurunkan hasil tangkap dan berdampak pada ketahanan pangan masyarakat pesisir yang bergantung pada sektor ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks regulasi, Taskap ini menegaskan pentingnya landasan hukum yang kuat sebagai pijakan kebijakan pengelolaan sumber daya kelautan. Penulis menelaah peraturan seperti Undang-Undang tentang Perikanan, Pemerintahan Daerah, RPJPN 2025\u20132045, hingga RPJMN 2025\u20132029 yang memprioritaskan pembangunan ekonomi biru sebagai pilar utama pembangunan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini juga memaparkan bahwa penguatan sektor kelautan harus mencakup peningkatan kapasitas nelayan, penggunaan teknologi modern, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam seluruh rantai produksi perikanan. Strategi ini tidak hanya penting untuk menjaga produktivitas tetapi juga keberlanjutan ekosistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu aspek penting yang ditekankan adalah pemetaan 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Setiap WPP memiliki karakteristik dan potensi produksi berbeda, sehingga pengelolaannya harus disesuaikan dengan pendekatan berbasis data dan kebutuhan wilayah.<\/p>\n\n\n\n<p>Investasi menjadi faktor pendukung lain dalam penguatan sektor kelautan. Pemerintah menargetkan investasi lebih dari Rp 12 triliun pada sektor kelautan dan perikanan di tahun-tahun mendatang, termasuk pemberdayaan lima komoditas unggulan seperti udang, rumput laut, dan nila. Hal ini menjadi peluang besar bagi ekonomi daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menggarisbawahi bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan, namun juga akses dan pemanfaatan pangan secara merata di seluruh wilayah. Sektor kelautan dapat memainkan peran strategis dalam pemerataan ini, terutama dengan memperkuat sistem logistik ikan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan semakin berkembangnya teknologi, penulis mendorong adopsi inovasi seperti akuaponik, budidaya laut berbasis sistem tertutup, serta digitalisasi rantai pasok sebagai bentuk modernisasi sektor perikanan yang ramah lingkungan dan efisien.<\/p>\n\n\n\n<p>Mewujudkan ketahanan pangan melalui sektor kelautan tidak dapat dilakukan tanpa melibatkan masyarakat lokal, terutama komunitas nelayan. Taskap menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat pesisir agar mereka menjadi bagian strategis dari pembangunan ekonomi maritim.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Pemerintah daerah juga memiliki peran besar dalam pengelolaan perikanan. Berdasarkan kerangka otonomi daerah, provinsi memiliki kewenangan mengelola wilayah laut hingga 12 mil, sehingga koordinasi pusat-daerah menjadi kunci keberhasilan implementasi kebijakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi ekonomi, peningkatan nilai ekspor produk kelautan Indonesia yang telah mencapai lebih dari USD 5,6 miliar menunjukkan potensi besar sektor ini sebagai penghasil devisa. Penguatan sektor ini juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja hingga puluhan juta orang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menghadapi tantangan global, Indonesia perlu memperkuat diplomasi maritim, terutama terkait perdagangan ikan dan standar keberlanjutan internasional. Hal ini penting agar produk kelautan Indonesia mampu bersaing dan memenuhi standar global.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan merupakan kunci untuk memastikan ekosistem laut tetap produktif. Taskap ini menegaskan bahwa keberlanjutan adalah prinsip utama yang harus dipegang dalam seluruh strategi nasional sektor kelautan.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap karya Kukuh Prabowo memberikan pandangan komprehensif mengenai pentingnya penguatan sektor kelautan tidak hanya sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai salah satu pilar utama dalam sistem Ketahanan Nasional Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan landasan teoretis, analisis hukum, data empiris, dan proyeksi strategis, Taskap ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sektor kelautan akan sangat menentukan kemampuan bangsa dalam menghadapi tantangan global, baik dari aspek ekonomi, lingkungan, maupun keamanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesimpulan utama dari kajian ini adalah bahwa optimalisasi pengelolaan sumber daya kelautan harus dilakukan secara terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan agar mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkuat Ketahanan Nasional secara keseluruhan. (AT\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penguatan sektor kelautan kembali menjadi perhatian penting dalam kajian strategis nasional melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) karya Kukuh Prabowo, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-918","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Penguatan sektor kelautan kembali menjadi perhatian penting dalam kajian strategis nasional melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) karya Kukuh Prabowo, [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/918","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=918"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/918\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=918"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=918"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=918"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}