{"id":816,"date":"2025-10-30T08:32:11","date_gmt":"2025-10-30T01:32:11","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=816"},"modified":"2025-10-30T08:32:11","modified_gmt":"2025-10-30T01:32:11","slug":"brics-dan-strategi-baru-diplomasi-ekonomi-indonesia-di-panggung-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=816","title":{"rendered":"BRICS dan Strategi Baru Diplomasi Ekonomi Indonesia di Panggung Global"},"content":{"rendered":"\n<p>Kombes Pol. Eka Syarif Nugraha Husen, S.I.K., M.Si., peserta Program Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Lemhannas RI Angkatan LXVIII Tahun 2025, melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap)-nya yang berjudul <em>\u201cKeanggotaan Indonesia dalam BRICS Guna Memperkuat Posisi Diplomasi Ekonomi Indonesia\u201d<\/em>, mengulas secara komprehensif arah baru kebijakan luar negeri Indonesia di tengah dinamika ekonomi global. Dalam tulisannya, Eka menyoroti langkah strategis pemerintah Indonesia untuk bergabung sebagai anggota penuh BRICS pada awal 2025 sebagai momentum penting bagi penguatan diplomasi ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah Indonesia menjadi anggota BRICS tidak hanya sekadar simbol keikutsertaan dalam forum internasional, tetapi merupakan upaya konkret untuk memperluas ruang gerak diplomasi ekonomi. BRICS\u2014yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, serta kini diperluas dengan masuknya lima negara baru termasuk Indonesia\u2014merepresentasikan kekuatan ekonomi kolektif yang signifikan, mencakup hampir 50 persen populasi dunia dan 30 persen PDB global. Melalui keanggotaan ini, Indonesia menegaskan tekadnya untuk mengambil posisi strategis dalam tatanan ekonomi dunia yang semakin multipolar.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam analisisnya, Eka mengungkapkan bahwa diplomasi ekonomi telah menjadi fokus utama arah kebijakan luar negeri Indonesia sejak era Presiden Joko Widodo, yang kemudian diperkuat oleh Presiden Prabowo Subianto. Transformasi ini menandai pergeseran diplomasi tradisional ke arah diplomasi yang lebih produktif dan berorientasi hasil, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan nasional melalui kerja sama ekonomi dan perdagangan internasional yang berimbang.<\/p>\n\n\n\n<p>Keputusan bergabung dengan BRICS, menurut Eka, bukanlah langkah spontan melainkan hasil perhitungan strategis yang mendalam. Indonesia melihat peluang besar dalam memperkuat jejaring kerja sama Selatan-Selatan, mengoptimalkan potensi pasar negara berkembang, dan mengurangi ketergantungan terhadap sistem ekonomi global yang selama ini didominasi oleh Barat. Selain itu, melalui akses ke <em>New Development Bank (NDB)<\/em> yang dimiliki BRICS, Indonesia dapat memperoleh dukungan pembiayaan untuk proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kertas kerja ini juga menyoroti dimensi diplomasi ekonomi dari perspektif hukum internasional dan kebijakan nasional. Eka mengaitkan keanggotaan BRICS dengan pelaksanaan amanat Undang-Undang Dasar 1945, khususnya dalam konteks hubungan luar negeri yang bebas dan aktif. Keikutsertaan Indonesia dalam forum multilateral seperti BRICS dianggap sejalan dengan tujuan nasional, yakni memperkuat kedaulatan ekonomi, memperluas kemitraan strategis, serta mendukung visi Indonesia Emas 2045.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, Eka memaparkan berbagai tantangan yang mengiringi langkah Indonesia bergabung dengan BRICS. Salah satunya adalah potensi ketergantungan ekonomi terhadap Tiongkok yang memiliki dominasi besar dalam struktur ekonomi BRICS. Selain itu, terdapat risiko kompetisi pasar antarnegara anggota yang memiliki struktur ekonomi serupa, seperti di sektor energi dan manufaktur. Namun, Eka menilai tantangan tersebut dapat dikelola melalui diplomasi yang cerdas, negosiasi setara, serta penguatan kapasitas domestik.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks hubungan internasional, Eka mengaplikasikan teori interdependensi kompleks dari Keohane dan Nye untuk menggambarkan bahwa keanggotaan Indonesia dalam BRICS membuka peluang kerja sama yang bersifat saling menguntungkan. Ia juga menegaskan bahwa dalam sistem multipolar yang sedang terbentuk, kekuatan ekonomi menjadi instrumen utama bagi negara-negara berkembang untuk menegosiasikan kepentingannya tanpa harus mengandalkan kekuatan militer.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya ilmiah ini turut menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia dan kesiapan industri nasional agar keanggotaan Indonesia dalam BRICS memberikan manfaat nyata. Dengan bonus demografi yang besar, Indonesia memiliki potensi tenaga kerja produktif yang dapat menjadi modal utama dalam meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Namun demikian, peningkatan kualitas pendidikan, inovasi, dan riset tetap menjadi prasyarat utama agar Indonesia mampu bersaing di antara negara-negara anggota BRICS.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bagian pembahasan, Eka juga menekankan pentingnya memperkuat diplomasi ekonomi di sektor strategis seperti energi, pertanian, dan manufaktur berteknologi tinggi. Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan forum BRICS untuk memperluas akses pasar ekspor, menarik investasi langsung, serta meningkatkan nilai tambah produk nasional melalui hilirisasi industri. Hal ini selaras dengan agenda transformasi ekonomi nasional sebagaimana tercantum dalam RPJPN 2025\u20132045.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain aspek ekonomi, keanggotaan BRICS juga membawa dimensi politik luar negeri yang memperkuat posisi Indonesia di tataran global. Melalui forum seperti <em>BRICS Summit<\/em> dan <em>Foreign Ministers\u2019 Meeting<\/em>, Indonesia berkesempatan memperjuangkan reformasi tata kelola global agar lebih inklusif dan adil bagi negara berkembang. Kehadiran Menteri Luar Negeri dan Presiden Indonesia dalam berbagai pertemuan BRICS menegaskan peran aktif Indonesia sebagai jembatan antara kekuatan global Utara dan Selatan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Eka menilai, partisipasi aktif Indonesia di BRICS menunjukkan kemampuan diplomasi nasional untuk beradaptasi dengan perubahan tatanan dunia. Dalam hal ini, Indonesia tidak lagi hanya menjadi penonton dalam percaturan global, tetapi menjadi pemain yang turut memengaruhi arah kebijakan ekonomi internasional. Peran ini memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan politik luar negeri bebas-aktif yang modern dan berorientasi hasil.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui kajian yang tajam dan berbasis data, Eka Syarif Nugraha Husen mengajukan rekomendasi agar Indonesia mengoptimalkan keanggotaan BRICS dengan strategi yang terarah. Pemerintah diharapkan memperkuat koordinasi lintas kementerian, memperluas jejaring ekonomi dengan anggota BRICS lainnya, serta mendorong inovasi kebijakan yang berpihak pada penguatan ekonomi nasional. Dengan demikian, diplomasi ekonomi Indonesia akan semakin efektif dalam mendukung kemandirian dan daya saing bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini menjadi kontribusi pemikiran strategis dari peserta P4N Lemhannas RI dalam mendukung arah kebijakan nasional di bidang hubungan luar negeri. Melalui riset mendalam, Eka menunjukkan bagaimana lembaga pendidikan kepemimpinan nasional berperan sebagai inkubator gagasan strategis untuk memperkuat kapasitas negara dalam menghadapi tantangan global. Lemhannas RI, melalui program P4N, terus menjadi pusat pengembangan kepemimpinan nasional yang berpikir visioner, analitis, dan berorientasi pada kepentingan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Naskah karya ini mempertegas bahwa diplomasi ekonomi adalah wujud nyata dari politik luar negeri yang pro-rakyat dan berorientasi pada kesejahteraan. Dengan bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS, terbuka peluang besar untuk memperluas pengaruh ekonomi Indonesia di kancah global sekaligus memperkuat fondasi kemandirian nasional. Langkah ini bukan hanya tentang posisi di forum internasional, tetapi tentang masa depan ekonomi bangsa yang lebih berdaulat, inklusif, dan berdaya saing tinggi. (MF\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kombes Pol. Eka Syarif Nugraha Husen, S.I.K., M.Si., peserta Program Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Lemhannas RI Angkatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-816","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"MF","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=3"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kombes Pol. Eka Syarif Nugraha Husen, S.I.K., M.Si., peserta Program Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Lemhannas RI Angkatan [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/816","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=816"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/816\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=816"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=816"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=816"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}