{"id":763,"date":"2025-10-15T13:24:00","date_gmt":"2025-10-15T06:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=763"},"modified":"2025-10-20T15:29:28","modified_gmt":"2025-10-20T08:29:28","slug":"meneguhkan-kewaspadaan-nasional-melalui-aksi-nyata-mengatasi-pemanasan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=763","title":{"rendered":"Meneguhkan Kewaspadaan Nasional Melalui Aksi Nyata Mengatasi Pemanasan Global"},"content":{"rendered":"\n<p>Pemanasan global bukan hanya masalah perubahan suhu bumi, tetapi juga ancaman strategis terhadap keberlangsungan bangsa. Hal inilah yang menjadi fokus perhatian Komisaris Besar Polisi Bambang Irawan, S.I.K., M.H., peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXVIII Tahun 2025 Lemhannas RI, dalam <em>Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap)<\/em> berjudul <em>\u201cMengatasi Pemanasan Global Guna Terjaganya Kelestarian Lingkungan dalam Rangka Kewaspadaan Nasional.\u201d<\/em> Melalui karyanya, Bambang mengingatkan bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga keamanan dan masa depan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam tulisannya, Bambang menegaskan bahwa pemanasan global harus dipandang sebagai ancaman nyata bagi ketahanan nasional. Ia menyoroti rendahnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap isu lingkungan, yang menyebabkan persoalan seperti deforestasi, pencemaran, dan emisi karbon belum tertangani optimal. Bagi Bambang, kewaspadaan nasional seharusnya tidak hanya terbatas pada aspek pertahanan militer, tetapi juga pada kemampuan bangsa dalam melindungi sumber daya alamnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Data yang dihimpun dalam Taskap menunjukkan bahwa emisi karbon Indonesia pada tahun 2024 mencapai 887 juta ton CO\u2082 ekuivalen, dengan sektor energi, transportasi, dan kehutanan sebagai penyumbang utama. Kondisi ini menempatkan Indonesia di antara sepuluh negara dengan emisi terbesar di dunia. Peningkatan suhu global yang sudah melampaui 1,5 derajat Celsius memperkuat urgensi tindakan mitigasi yang cepat, tepat, dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bambang menyoroti sektor transportasi sebagai kontributor signifikan pemanasan global. Dengan jumlah kendaraan bermotor mencapai 164 juta unit pada 2024, polusi udara semakin parah, terutama di kota-kota besar. Ia mendorong akselerasi penggunaan kendaraan listrik serta pengembangan transportasi publik ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan <em>Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019<\/em> tentang percepatan kendaraan listrik berbasis baterai yang diharapkan mampu menekan emisi karbon dari sektor transportasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain transportasi, pengelolaan sampah juga menjadi masalah serius. Berdasarkan hasil kajian, lebih dari 60 persen tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia masih menggunakan sistem terbuka atau <em>open dumping<\/em>. Kondisi tersebut menyebabkan emisi gas metana yang jauh lebih berbahaya dibanding karbon dioksida. Bambang menegaskan perlunya penerapan penuh <em>Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017<\/em> tentang Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga agar Indonesia dapat bertransisi menuju sistem pengelolaan yang lebih ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Isu deforestasi juga menjadi sorotan utama dalam Taskap ini. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia kehilangan jutaan hektare hutan akibat ekspansi perkebunan, tambang, dan pembangunan infrastruktur. Bambang menilai bahwa moratorium izin pembukaan hutan primer dan gambut telah memberi hasil positif, namun pengawasan dan penegakan hukum masih perlu diperkuat. Hutan bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi juga benteng alami terhadap pemanasan global.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Bambang mengaitkan isu lingkungan dengan konsep kewaspadaan nasional. Menurutnya, pemanasan global berpotensi memicu berbagai krisis baru, mulai dari bencana alam, krisis pangan, hingga konflik sosial akibat perebutan sumber daya. Ia menegaskan bahwa kewaspadaan nasional adalah kesiapsiagaan bangsa menghadapi segala bentuk ancaman, termasuk ancaman ekologis yang bersifat lintas sektoral dan berdampak jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menjawab tantangan tersebut, Bambang menekankan pentingnya inovasi teknologi dalam mendukung pengendalian perubahan iklim. Indonesia telah mengembangkan sistem digital seperti SIGN-SMART dan SIMONTANA yang mampu memantau emisi gas rumah kaca serta kondisi hutan secara real time. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi data dan efektivitas kebijakan mitigasi iklim secara nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain pendekatan teknologi, partisipasi masyarakat juga menjadi faktor penentu. Bambang mengapresiasi inisiatif komunitas muda seperti \u201cPandawara Group\u201d yang melakukan aksi bersih pantai dan edukasi publik tentang sampah. Gerakan akar rumput semacam ini menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil di tingkat lokal, dan menjadi bagian penting dari budaya kewaspadaan nasional yang berakar pada kesadaran sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kerangka teorinya, Bambang menggunakan pendekatan <em>Teori Kewaspadaan Nasional<\/em> dan <em>Ekologi Politik<\/em> untuk menjelaskan hubungan antara kebijakan negara, perilaku masyarakat, dan kondisi lingkungan. Ia menyoroti tiga prinsip utama yang harus diterapkan, yaitu deteksi dini, antisipasi, dan pencegahan. Ketiganya merupakan dasar pembentukan sistem nasional yang tangguh dalam menghadapi ancaman perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Bambang juga mendorong sinergi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil. Program seperti <em>Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030<\/em> menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi dapat menghasilkan solusi berkelanjutan. Dengan keterlibatan semua pihak, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai negara yang berkomitmen terhadap agenda global penurunan emisi.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Dalam konteks ekonomi hijau, Bambang mengangkat pentingnya implementasi pajak karbon sebagaimana diatur dalam <em>Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021<\/em>. Instrumen ini dapat menjadi pendorong bagi industri untuk menurunkan emisi sekaligus sumber pendanaan baru bagi proyek-proyek lingkungan. Pendekatan berbasis nilai ekonomi karbon dinilai mampu menyeimbangkan antara kepentingan pembangunan dan pelestarian alam.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui kesimpulannya, Bambang menegaskan bahwa keberhasilan mengatasi pemanasan global harus dimulai dari kesadaran individu. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi, sekecil apa pun, dalam menjaga bumi. Perubahan perilaku seperti menghemat energi, mengurangi plastik sekali pakai, dan mendukung produk ramah lingkungan merupakan bentuk nyata bela negara di era modern.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya ini bukan sekadar telaah ilmiah, tetapi juga seruan moral untuk seluruh elemen bangsa agar bersatu menghadapi ancaman iklim. Bambang menekankan bahwa menjaga lingkungan sama artinya dengan menjaga kehidupan. Dalam perspektif ketahanan nasional, keseimbangan ekosistem adalah fondasi bagi keberlangsungan bangsa Indonesia di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui karya ilmiahnya, Bambang Irawan menampilkan sosok pemimpin yang visioner dan berorientasi pada keberlanjutan. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan nasional masa depan harus menggabungkan kecerdasan strategis dengan kepedulian ekologis. Dengan mengintegrasikan nilai lingkungan ke dalam kebijakan nasional, Indonesia dapat memperkuat ketahanan, kemandirian, dan martabatnya di tengah tantangan global. (MF\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemanasan global bukan hanya masalah perubahan suhu bumi, tetapi juga ancaman strategis terhadap keberlangsungan bangsa. Hal inilah yang menjadi fokus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-763","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"MF","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=3"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Pemanasan global bukan hanya masalah perubahan suhu bumi, tetapi juga ancaman strategis terhadap keberlangsungan bangsa. Hal inilah yang menjadi fokus [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/763","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=763"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/763\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}