{"id":583,"date":"2025-09-19T10:57:05","date_gmt":"2025-09-19T03:57:05","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=583"},"modified":"2025-10-03T10:42:34","modified_gmt":"2025-10-03T03:42:34","slug":"mewujudkan-kota-sehat-nusantara-ekosistem-kesehatan-terintegrasi-di-ikn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=583","title":{"rendered":"Mewujudkan Kota Sehat Nusantara: Ekosistem Kesehatan Terintegrasi di IKN"},"content":{"rendered":"\n<p>dr. Sari Quratul Ainy, MM, AAK, peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, telah menyelesaikan Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul <em>\u201cPembentukan Ekosistem Kesehatan Terintegrasi Guna Percepatan Pembangunan Kesehatan di IKN.\u201d<\/em> Taskap ini menjadi sumbangan pemikiran strategis mengenai bagaimana pembangunan kesehatan di Ibu Kota Nusantara dapat dipercepat melalui kolaborasi lintas sektor dan penerapan regulasi yang terarah.<\/p>\n\n\n\n<p>Pembangunan IKN sebagai kota cerdas dan berkelanjutan tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur, tata ruang, dan lingkungan, tetapi juga memerlukan fondasi kokoh di bidang kesehatan. dr. Sari menekankan bahwa ekosistem kesehatan yang terintegrasi adalah kunci dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat ketahanan nasional di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsep ekosistem kesehatan terintegrasi dipandang sebagai pendekatan holistik, mencakup kolaborasi antara pelayanan kesehatan, teknologi, lingkungan, pendidikan, hingga tata kelola pemerintahan. Tujuan akhirnya adalah menjadikan IKN sebagai Kota Sehat Nusantara yang mampu menjadi contoh pembangunan kesehatan berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam penelitiannya, dr. Sari mengkaji pentingnya indikator terukur seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Human Capital Index (HCI) untuk menilai keberhasilan pembangunan kesehatan. Indikator tersebut memastikan adanya monitoring dan evaluasi berkelanjutan yang menjadi dasar pengambilan keputusan berbasis bukti.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesimpulan utama dari Taskap ini menyebutkan bahwa pembentukan ekosistem kesehatan terintegrasi akan mempercepat pembangunan kesehatan, meningkatkan kualitas SDM, serta memperkuat daya saing bangsa. Ekosistem ini tidak hanya fokus pada aspek kuratif, tetapi juga promotif dan preventif, sehingga mampu mengantisipasi tantangan kesehatan masyarakat di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Regulasi disebut sebagai fondasi utama keberhasilan pembangunan ekosistem kesehatan IKN. Dukungan hukum dari Undang-Undang Dasar 1945, UU No. 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, hingga UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan memberikan dasar yang kokoh bagi perencanaan, implementasi, dan evaluasi pembangunan kesehatan modern.<\/p>\n\n\n\n<p>Peran teknologi kesehatan menjadi sorotan dalam Taskap ini. Pemanfaatan telemedisin, artificial intelligence (AI), dan rekam medis elektronik disebut sangat penting untuk meningkatkan efisiensi pelayanan, memperluas akses kesehatan, serta memastikan pemerataan layanan bagi seluruh warga IKN.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Selain itu, kolaborasi lintas sektor menjadi aspek vital. Kesehatan masyarakat tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterhubungan dengan sektor pendidikan, lingkungan, dan infrastruktur. Oleh karena itu, Taskap ini mendorong sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, Otorita IKN, pemerintah daerah penyangga, BPJS Kesehatan, serta masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tantangan yang diidentifikasi dalam pembentukan ekosistem kesehatan di IKN antara lain adalah disparitas distribusi tenaga kesehatan, keterbatasan infrastruktur, dan risiko penyakit menular. Namun, dr. Sari menawarkan mitigasi melalui strategi peningkatan kapasitas SDM, penguatan regulasi, serta pembangunan infrastruktur kesehatan yang merata dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menekankan perlunya strategi bertahap hingga tahun 2045 yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian PAN-RB, Kementerian Dalam Negeri, BPJS Kesehatan, Otorita IKN, serta pemerintah daerah penyangga. Setiap lembaga memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa pembangunan ekosistem kesehatan berjalan konsisten dan terukur.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan program promotif dan preventif, peningkatan distribusi tenaga medis, integrasi data kependudukan, hingga pemanfaatan platform digital lintas sektor. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat IKN dapat memperoleh akses kesehatan yang adil, merata, dan berkualitas.<\/p>\n\n\n\n<p>dr. Sari menegaskan bahwa keberhasilan pembentukan ekosistem kesehatan terintegrasi tidak hanya berdampak pada IKN, tetapi juga dapat menjadi model pembangunan kota sehat di wilayah lain di Indonesia. Konsep ini mendukung visi Indonesia Emas 2045 dengan mencetak SDM unggul yang sehat, produktif, dan berdaya saing global.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai penutup, Taskap ini menggarisbawahi bahwa pembangunan IKN tidak boleh hanya berorientasi pada aspek fisik, tetapi juga harus menjamin kesehatan warganya. Dengan ekosistem kesehatan terintegrasi, IKN akan hadir sebagai kota yang sehat, cerdas, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan nasional Indonesia.(IP\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>dr. Sari Quratul Ainy, MM, AAK, peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, telah menyelesaikan Kertas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-583","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"dr. Sari Quratul Ainy, MM, AAK, peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, telah menyelesaikan Kertas [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=583"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/583\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}