{"id":578,"date":"2025-09-18T13:00:41","date_gmt":"2025-09-18T06:00:41","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=578"},"modified":"2025-10-03T16:04:16","modified_gmt":"2025-10-03T09:04:16","slug":"pemberdayaan-pariwisata-bahari-sebagai-pilar-kesejahteraan-masyarakat-pesisir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=578","title":{"rendered":"Pemberdayaan Pariwisata Bahari sebagai Pilar Kesejahteraan Masyarakat Pesisir"},"content":{"rendered":"\n<p>Kolonel Marinir Rudi Harto Marpaung, M.Han., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, telah menyelesaikan Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) dengan judul <em>\u201cPemberdayaan Pariwisata Bahari Guna Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir\u201d<\/em>. Taskap ini merupakan kontribusi pemikiran yang relevan dengan tantangan strategis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sekaligus menawarkan solusi berkelanjutan bagi pembangunan ekonomi berbasis maritim.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia memiliki garis pantai sepanjang lebih dari 108 ribu kilometer dengan ribuan pulau yang menyimpan potensi bahari luar biasa. Keindahan pantai, keanekaragaman hayati laut, serta budaya masyarakat pesisir menjadi modal besar untuk mengembangkan pariwisata bahari. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan berupa regulasi yang tumpang tindih, keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur yang belum memadai, serta minimnya promosi yang mengurangi daya saing destinasi bahari Indonesia di tingkat global.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Taskap ini, Rudi Harto Marpaung menegaskan bahwa pemberdayaan pariwisata bahari tidak hanya menyangkut pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga penguatan kapasitas masyarakat lokal. Pendidikan, pelatihan, dan transfer pengetahuan menjadi faktor utama agar masyarakat pesisir mampu menjadi pelaku utama dalam pengelolaan pariwisata, bukan sekadar penonton dari geliat industri yang hadir di wilayah mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Analisis yang dituangkan dalam karya ilmiah ini memanfaatkan metode deskriptif analitis dan pendekatan SWOT untuk menelaah kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman yang dihadapi sektor pariwisata bahari Indonesia. Dari hasil kajian, terlihat bahwa kekayaan sumber daya alam pesisir merupakan kekuatan yang harus dijaga, sementara kelemahan terletak pada keterbatasan fasilitas dasar dan lemahnya koordinasi antar-lembaga.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menyajikan perspektif <em>blue economy<\/em> atau ekonomi biru, yakni konsep pembangunan ekonomi yang mengoptimalkan pemanfaatan laut secara berkelanjutan. Pariwisata bahari, bila dijalankan dengan prinsip ekonomi biru, dapat menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal ini penting agar pengembangan pariwisata tidak menimbulkan degradasi ekosistem laut yang justru akan merugikan dalam jangka panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai regulasi telah ada, mulai dari Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir hingga Peraturan Menteri terkait destinasi berkelanjutan. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala koordinasi antar-tingkatan pemerintahan. Oleh karena itu, Rudi Harto Marpaung menekankan perlunya regulasi yang konsisten, harmonis, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat pesisir sebagai penerima manfaat langsung dari pariwisata bahari.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Selain regulasi, infrastruktur juga menjadi pilar penting. Data menunjukkan masih banyak pelabuhan wisata dan akses jalan menuju kawasan pesisir yang belum layak. Padahal, tanpa infrastruktur yang memadai, sulit untuk menarik minat wisatawan. Investasi dalam pembangunan sarana transportasi, dermaga, serta akomodasi ramah lingkungan menjadi rekomendasi utama yang diajukan dalam Taskap ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Promosi dan pemasaran destinasi bahari juga menjadi perhatian penting. Hanya sebagian kecil destinasi bahari Indonesia yang mendapat promosi intensif, sementara lainnya masih belum dikenal luas. Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, dan sektor swasta, promosi dapat dilakukan lebih efektif, termasuk dengan memanfaatkan teknologi digital dan media sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi masyarakat, pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konservasi. Masyarakat pesisir perlu dilibatkan dalam pengelolaan terumbu karang, hutan mangrove, serta kawasan konservasi laut lainnya. Dengan begitu, selain mendapatkan manfaat ekonomi dari wisatawan, mereka juga menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini menyoroti pula peluang besar yang ditawarkan oleh pariwisata bahari terhadap penciptaan lapangan kerja baru. Mulai dari pemandu wisata, pengelola homestay, hingga usaha kuliner dan kerajinan tangan, semua membuka jalan bagi peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Pemberdayaan UMKM lokal dalam rantai nilai pariwisata menjadi salah satu strategi kunci yang diajukan penulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara global, studi banding terhadap praktik negara lain seperti Costa Rica memberikan gambaran bagaimana pengelolaan wisata bahari yang berorientasi konservasi mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya yang jauh lebih besar, diyakini dapat melampaui capaian tersebut bila strategi pemberdayaan dijalankan secara konsisten.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kesimpulannya, Rudi Harto Marpaung menegaskan bahwa pariwisata bahari dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional apabila dikelola secara terarah. Kunci utamanya adalah sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang inklusif, berdaya saing, serta berkelanjutan. <\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini memberikan rekomendasi kebijakan yang berfokus pada tiga hal utama: harmonisasi regulasi, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pembangunan infrastruktur pendukung yang ramah lingkungan. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, pariwisata bahari diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia. (ALV\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kolonel Marinir Rudi Harto Marpaung, M.Han., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, telah menyelesaikan Kertas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-578","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kolonel Marinir Rudi Harto Marpaung, M.Han., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, telah menyelesaikan Kertas [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/578","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=578"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/578\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=578"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=578"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=578"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}