{"id":538,"date":"2025-08-19T12:44:05","date_gmt":"2025-08-19T05:44:05","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=538"},"modified":"2025-10-07T09:28:39","modified_gmt":"2025-10-07T02:28:39","slug":"ekonomi-biru-pilar-strategis-menuju-ketahanan-ekonomi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=538","title":{"rendered":"Ekonomi Biru: Pilar Strategis Menuju Ketahanan Ekonomi Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Kolonel Laut (S) Ferry Mulyadi Arifin, yang juga peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, menyuguhkan pemikiran strategis melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul \u201cMeningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Biru di Wilayah Pesisir Guna Mendukung Ketahanan Ekonomi Nasional\u201d. Taskap ini menjadi kontribusi intelektual yang menggarisbawahi urgensi peran kawasan pesisir dalam membangun ketahanan ekonomi bangsa melalui pendekatan ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Taskap-nya, Ferry menyoroti fakta bahwa lebih dari 60% penduduk Indonesia bermukim di wilayah pesisir, yang menjadikan kawasan tersebut tidak hanya sebagai pusat aktivitas sosial ekonomi, tetapi juga sebagai garda depan pembangunan nasional. Meski kaya akan sumber daya, kawasan ini justru menjadi kantong kemiskinan ekstrem. Hal ini menandakan adanya kesenjangan antara potensi dan kenyataan yang harus segera dijembatani.<\/p>\n\n\n\n<p>Penurunan Nilai Tukar Nelayan (NTN) hingga di bawah 106 dan tingginya angka kemiskinan ekstrem menunjukkan bahwa kekayaan laut yang melimpah belum sepenuhnya menjadi pengungkit kesejahteraan nelayan lokal. Ferry memaparkan bahwa tantangan seperti overfishing, kerusakan ekosistem mangrove dan terumbu karang, serta praktik eksploitasi sumber daya tanpa perencanaan jangka panjang adalah akar permasalahan utama.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Ferry mengemukakan urgensi perlunya pendekatan lintas sektor, yang mengintegrasikan sinergi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan sektor swasta. Sinergi ini dinilai krusial untuk membangun tata kelola pesisir yang adil, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kontribusi wilayah pesisir terhadap Produk Domestik Bruto nasional secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, strategi peningkatan ekonomi biru yang diusulkan Ferry mencakup penguatan regulasi, modernisasi alat tangkap ramah lingkungan, pemanfaatan teknologi digital berbasis geospasial untuk pemantauan, serta penyuluhan ekosistem berbasis konservasi kepada komunitas nelayan. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak kalah penting, Ferry menekankan bahwa pengembangan ekonomi biru harus menjamin hak akses masyarakat adat dan nelayan lokal terhadap sumber daya alam di wilayahnya sendiri. Ia mencatat bahwa konflik pemanfaatan ruang laut, seperti yang terjadi di beberapa daerah wisata eksklusif, menjadi contoh nyata perlunya harmonisasi kebijakan pusat dan daerah.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Dalam perspektif nasional, ekonomi biru diharapkan mampu menjadi salah satu pilar utama dalam menopang Ketahanan Nasional. Konsep ini menuntut keuletan dan ketangguhan dalam mengelola sumber daya secara optimal, tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan serta hak sosial masyarakat pesisir yang seringkali termarjinalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebijakan seperti Penangkapan Ikan Terukur (PIT), revitalisasi kawasan konservasi laut, serta integrasi sektor pariwisata bahari yang berorientasi pada ekowisata dinilai sebagai langkah konkret dalam mewujudkan agenda pembangunan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan).<\/p>\n\n\n\n<p>Pentingnya sinergi regulasi pun menjadi fokus dalam Taskap ini. Ferry menyajikan analisis terhadap berbagai undang-undang dan peraturan pemerintah yang relevan, seperti UU No. 1 Tahun 2014 tentang Wilayah Pesisir dan PP No. 11 Tahun 2023 tentang PIT, untuk mendukung keterpaduan dalam implementasi ekonomi biru yang berpihak pada keberlanjutan dan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya berhenti pada tataran analitis, Ferry menawarkan peta jalan strategis (roadmap) yang menggambarkan langkah konkret jangka pendek dan panjang dalam pembangunan sektor kelautan. Termasuk di antaranya adalah penyusunan zonasi perikanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pelibatan generasi muda dalam ekosistem ekonomi kelautan digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Penutup Taskap ini menegaskan bahwa jika dikelola dengan baik, kawasan pesisir tidak hanya akan menjadi pilar pertumbuhan ekonomi baru, tetapi juga benteng ketahanan nasional. Oleh karena itu, pemikiran Ferry ini menjadi kontribusi berharga dalam pengambilan kebijakan yang lebih adil, berdaya guna, dan berkelanjutan untuk Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui penyusunan Taskap ini, Ferry Mulyadi Arifin telah menunjukkan komitmen dan integritasnya sebagai bagian dari insan Lemhannas yang mendedikasikan diri untuk menciptakan solusi strategis demi kepentingan bangsa dan negara. Pemikirannya merupakan panggilan untuk bertindak, memperkuat jati diri maritim bangsa dalam menggapai masa depan Indonesia Emas 2045. (MF\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kolonel Laut (S) Ferry Mulyadi Arifin, yang juga peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, menyuguhkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-538","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kolonel Laut (S) Ferry Mulyadi Arifin, yang juga peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI tahun 2024, menyuguhkan [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/538","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=538"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/538\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}