{"id":504,"date":"2025-09-08T12:09:08","date_gmt":"2025-09-08T05:09:08","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=504"},"modified":"2025-10-03T15:58:41","modified_gmt":"2025-10-03T08:58:41","slug":"penguatan-sosial-budaya-inklusif-sebagai-pilar-pembangunan-ibu-kota-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=504","title":{"rendered":"Penguatan Sosial Budaya Inklusif sebagai Pilar Pembangunan Ibu Kota Nusantara"},"content":{"rendered":"\n<p>Kolonel Inf Muhammad Dariyanto, peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) mengangkat judul <em>\u201cPenguatan Sosial Budaya yang Inklusif Guna Mendukung Pembangunan Ibu Kota Nusantara\u201d<\/em>. Karya ini lahir dari keprihatinan sekaligus tekad untuk menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan IKN tidak hanya bergantung pada aspek fisik, melainkan juga pada kekuatan sosial budaya masyarakatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam penjelasannya, Muhammad Dariyanto menyoroti bagaimana perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur membawa konsekuensi besar pada struktur sosial masyarakat. Kehadiran beragam etnis, budaya, dan agama akan menciptakan interaksi baru yang bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kohesi sosial di IKN. Oleh sebab itu, diperlukan strategi penguatan sosial budaya yang mampu merangkul keberagaman secara inklusif.<\/p>\n\n\n\n<p>Latar belakang kajian ini dilandasi kenyataan bahwa Kalimantan Timur sebagai wilayah penyangga IKN memiliki kondisi masyarakat yang heterogen. Suku Dayak sebagai penduduk asli hidup berdampingan dengan komunitas pendatang dari Jawa, Bugis, Banjar, dan kelompok lainnya. Keragaman ini, bila tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan gesekan sosial, terlebih dengan derasnya arus urbanisasi akibat perpindahan ASN dan pekerja pembangunan IKN.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menekankan bahwa pembangunan IKN harus memandang aspek sosial budaya sebagai bagian integral dari strategi pembangunan berkelanjutan. Sejalan dengan UU No. 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara, IKN diharapkan bukan hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga lambang persatuan nasional dan kota dunia untuk semua. Hal ini menuntut adanya penguatan nilai inklusif dalam setiap kebijakan dan program.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui analisis PESTLE, penulis menguraikan bagaimana faktor politik, ekonomi, sosial, teknologi, hukum, dan lingkungan berpengaruh terhadap penguatan sosial budaya di IKN. Dukungan pemerintah, kesiapan tenaga kerja lokal, ketersediaan pendidikan dan layanan kesehatan, serta partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan pembangunan yang menyeluruh dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari aspek pendidikan, masih terdapat kesenjangan yang nyata. Data menunjukkan tingkat pendidikan masyarakat Kalimantan Timur belum merata, khususnya di wilayah pedalaman. Untuk itu, peningkatan kualitas pendidikan dan akses yang setara menjadi syarat penting agar masyarakat lokal mampu berkompetisi dengan para pendatang dalam mengisi peluang kerja di IKN.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Dalam sektor keterampilan kerja, penulis menekankan perlunya pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan modern. Tenaga kerja lokal perlu dibekali dengan kompetensi di bidang teknologi, manajemen, dan layanan publik agar tidak kalah bersaing dengan pekerja dari luar daerah. Pemberdayaan ini sekaligus akan mengurangi potensi kesenjangan ekonomi dan sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara dari aspek kesehatan, tantangan masih terlihat dari keterbatasan fasilitas dan tenaga medis. Pembangunan IKN diproyeksikan akan meningkatkan jumlah penduduk secara signifikan, sehingga kebutuhan layanan kesehatan pun melonjak. Dengan demikian, perlu langkah strategis dalam memperluas fasilitas kesehatan, memperkuat tenaga medis, serta memastikan akses layanan kesehatan yang merata.<\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad Dariyanto juga menegaskan pentingnya membumikan nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari penguatan identitas. Gotong royong, toleransi, dan saling menghormati harus dijadikan pondasi dalam membangun kebersamaan. Upaya dialog antarbudaya dan akulturasi yang sehat akan menciptakan suasana inklusif dan mempererat hubungan antar kelompok masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengalaman negara lain dalam memindahkan ibu kota memberikan pelajaran berharga. Bras\u00edlia di Brasil menghadapi ketimpangan sosial, Naypyidaw di Myanmar terkendala ekonomi, sementara Astana di Kazakhstan berhasil tumbuh pesat namun diiringi tantangan sosial. Indonesia harus belajar dari kasus tersebut dengan menempatkan penguatan sosial budaya sebagai prioritas utama dalam pembangunan IKN.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi yang ditawarkan dalam Taskap ini mencakup peningkatan koordinasi lintas lembaga, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, dan transparansi dalam pengambilan keputusan. Selain itu, pelibatan aktif masyarakat lokal dianggap sangat penting agar pembangunan tidak sekadar menjadi proyek fisik, melainkan juga proses sosial yang inklusif.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan pendekatan yang menyeluruh, pembangunan IKN dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan bangsa. IKN diharapkan menjadi kota masa depan yang bukan hanya maju secara teknologi dan ekonomi, tetapi juga kaya akan harmoni sosial budaya. Hal ini sejalan dengan visi menjadikan Nusantara sebagai simbol identitas nasional yang berlandaskan ideologi bangsa. Taskap karya Muhammad Dariyanto ini pada akhirnya mengingatkan bahwa kekuatan sosial budaya adalah fondasi bagi keberhasilan pembangunan nasional. Dengan mengedepankan inklusivitas, pembangunan IKN dapat menjadi teladan bagaimana keberagaman dikelola secara bijak demi terwujudnya Indonesia yang adil, sejahtera, dan berdaulat. (ALV\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kolonel Inf Muhammad Dariyanto, peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-504","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kolonel Inf Muhammad Dariyanto, peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/504","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=504"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/504\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=504"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=504"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=504"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}