{"id":498,"date":"2025-09-03T12:02:16","date_gmt":"2025-09-03T05:02:16","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=498"},"modified":"2025-10-03T15:54:57","modified_gmt":"2025-10-03T08:54:57","slug":"meneguhkan-demokrasi-lewat-literasi-politik-generasi-z","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=498","title":{"rendered":"Meneguhkan Demokrasi Lewat Literasi Politik Generasi Z"},"content":{"rendered":"\n<p>Kombes Pol. Michael Ken Lingga, S.I.K., M.H., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, menyusun Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul <em>\u201cPenguatan Literasi Politik Generasi Z Guna Terwujudnya Konsolidasi Demokrasi\u201d<\/em>. Tulisan ini berangkat dari keprihatinan sekaligus optimisme terhadap masa depan demokrasi Indonesia, yang sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda, khususnya generasi Z.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini menegaskan bahwa demokrasi Indonesia memiliki perjalanan panjang sejak masa kemerdekaan hingga era reformasi. Namun, tantangan baru selalu muncul, termasuk menurunnya kualitas demokrasi yang ditunjukkan dengan indeks demokrasi yang masih berada dalam kategori <em>flawed democracy<\/em>. Kondisi ini semakin mendesak pentingnya peningkatan literasi politik, terutama bagi generasi Z yang akan menjadi penopang utama kehidupan demokrasi ke depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Generasi Z di Indonesia, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, jumlahnya mencapai lebih dari 74 juta jiwa atau sekitar 28 persen populasi. Mereka tumbuh di era digital yang serba cepat, akrab dengan media sosial, dan memiliki pola pikir yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dalam Pemilu 2024, generasi ini tampil sebagai pemilih pemula dengan jumlah signifikan, sehingga kualitas pilihan mereka sangat menentukan arah konsolidasi demokrasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, keterbatasan literasi politik di kalangan generasi Z menjadi perhatian serius. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari kurangnya pendidikan politik di sekolah, dominasi informasi yang tidak kredibel di media sosial, minimnya pengalaman praktis dalam berpolitik, hingga budaya politik yang masih hierarkis dan eksklusif. Semua faktor ini menjadikan literasi politik generasi Z belum sepenuhnya matang.<\/p>\n\n\n\n<p>Michael Ken Lingga menguraikan bahwa lemahnya literasi politik berpotensi menimbulkan dampak negatif. Generasi Z bisa menjadi sasaran empuk disinformasi, terjebak dalam politik identitas, hingga dimobilisasi dalam aksi-aksi yang kontraproduktif bagi demokrasi. Bahkan, rendahnya literasi politik berisiko menciptakan generasi yang apatis, tidak peduli terhadap proses politik, dan enggan menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, potensi positif generasi Z tidak bisa dipandang sebelah mata. Kedekatan mereka dengan teknologi digital justru dapat diarahkan untuk memperkuat literasi politik. Melalui akses cepat terhadap informasi, generasi ini dapat dilatih untuk membedakan informasi yang benar dan hoaks, serta diarahkan agar menjadi agen perubahan yang kritis sekaligus konstruktif dalam dinamika politik bangsa.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Taskap ini menegaskan pentingnya strategi penguatan literasi politik yang melibatkan banyak pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, partai politik, media, dan masyarakat sipil perlu bersinergi dalam menciptakan ruang yang inklusif, edukatif, dan partisipatif. Dengan begitu, generasi Z tidak hanya menjadi objek dalam politik, tetapi juga subjek yang aktif mengawal jalannya demokrasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam paparannya, Michael Ken Lingga juga menyoroti perlunya pendekatan pendidikan politik yang inovatif. Model pembelajaran <em>inquiry learning<\/em> atau pembelajaran berbasis penyelidikan dinilai relevan untuk generasi Z. Dengan pendekatan ini, anak muda diajak berpikir kritis, menganalisis isu politik, dan menemukan kesimpulan sendiri berdasarkan data serta pengalaman nyata.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, strategi penguatan literasi politik harus memanfaatkan kanal digital yang akrab dengan generasi Z. Konten politik edukatif di media sosial, forum diskusi interaktif, serta kampanye literasi berbasis komunitas diyakini dapat meningkatkan pemahaman politik mereka. Upaya ini akan mencegah mereka terjebak dalam arus informasi dangkal yang sering kali bersifat manipulatif.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsolidasi demokrasi tidak hanya berarti menjaga stabilitas politik, tetapi juga membangun legitimasi yang kuat melalui partisipasi warga negara yang cerdas. Literasi politik generasi Z menjadi kunci untuk mencapainya. Tanpa pemahaman politik yang memadai, demokrasi akan rentan terhadap krisis legitimasi, rendahnya kepercayaan publik, hingga lemahnya pengawasan terhadap pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menyampaikan bahwa keberhasilan penguatan literasi politik akan membawa Indonesia naik kelas, dari sekadar demokrasi prosedural menuju demokrasi substantif. Artinya, partisipasi politik tidak lagi sebatas ritual lima tahunan, tetapi benar-benar menjadi wujud keterlibatan rakyat dalam menentukan arah kebijakan dan pembangunan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Michael Ken Lingga menutup gagasannya dengan optimisme. Ia percaya bahwa jika literasi politik generasi Z diperkuat, maka Indonesia akan memiliki generasi penerus yang mampu menjaga nilai-nilai Pancasila, memelihara persatuan bangsa, sekaligus memperkokoh demokrasi. Generasi Z akan menjadi benteng kokoh dalam menghadapi ancaman internal maupun eksternal terhadap demokrasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini pada akhirnya tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga sumbangan pemikiran strategis. Harapannya, gagasan yang disusun dalam <em>\u201cPenguatan Literasi Politik Generasi Z Guna Terwujudnya Konsolidasi Demokrasi\u201d<\/em> dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah, lembaga pendidikan, serta seluruh komponen bangsa dalam mempersiapkan generasi muda untuk masa depan demokrasi Indonesia. (ALV\/BIA)<strong><br><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kombes Pol. Michael Ken Lingga, S.I.K., M.H., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, menyusun Kertas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-498","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kombes Pol. Michael Ken Lingga, S.I.K., M.H., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, menyusun Kertas [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/498","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=498"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/498\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=498"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=498"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=498"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}