{"id":425,"date":"2025-08-26T10:35:00","date_gmt":"2025-08-26T03:35:00","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=425"},"modified":"2025-10-07T09:44:17","modified_gmt":"2025-10-07T02:44:17","slug":"pertanian-cerdas-untuk-ketahanan-bangsa-mendorong-transformasi-digital-dalam-teknologi-pertanian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=425","title":{"rendered":"Pertanian Cerdas untuk Ketahanan Bangsa: Mendorong Transformasi Digital dalam Teknologi Pertanian"},"content":{"rendered":"\n<p>Kolonel Pnb Henri Ahmad Badawi, S.M., M.M., M.Han., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI, menghadirkan gagasan strategis melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul <em>Optimalisasi Teknologi Pertanian Berbasis Transformasi Digital Guna Mendukung Ketahanan Pangan Nasional<\/em>. Karya ini tidak hanya menjawab tantangan mendesak sektor pertanian, namun juga memetakan solusi konkret dengan pendekatan digital guna menjamin masa depan pangan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam paparannya, Henri menyoroti pentingnya sektor pertanian sebagai pilar utama ketahanan nasional. Meski memiliki peran vital dalam menyediakan pangan dan menyerap tenaga kerja, sektor ini masih menghadapi stagnasi produktivitas dan rendahnya efisiensi. Salah satu akar persoalannya adalah minimnya penerapan teknologi modern dalam proses pertanian, terutama yang berbasis digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Transformasi digital, menurut Henri, bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan pendekatan berbasis teknologi seperti Internet of Things (IoT), drone, dan sistem pemantauan berbasis data, petani dapat meningkatkan hasil produksi secara signifikan. Sayangnya, pemanfaatan teknologi ini belum merata dan masih didominasi oleh berbagai hambatan struktural seperti akses internet, infrastruktur pendukung, serta rendahnya literasi digital di kalangan petani.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini menyajikan data mencemaskan: lebih dari separuh petani Indonesia belum menggunakan alat dan mesin pertanian modern. Fenomena \u201caging farmer\u201d juga memperburuk kondisi\u2014mayoritas petani saat ini berusia di atas 55 tahun, dengan semakin minimnya regenerasi petani muda. Kesenjangan digital, baik dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusia, menjadi faktor penghambat utama akselerasi transformasi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun Henri tidak berhenti pada pemetaan masalah. Ia juga menyusun strategi berbasis pendekatan pentahelix yang melibatkan lima elemen: pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Kolaborasi antarelemen ini diyakini dapat menciptakan ekosistem pertanian digital yang lebih inklusif dan adaptif terhadap dinamika global.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis juga menekankan urgensi reformasi kebijakan dan regulasi yang mendukung percepatan digitalisasi sektor pertanian. Selain itu, ia mendorong optimalisasi program penyuluhan berbasis teknologi dan insentif bagi petani muda untuk masuk dalam ekosistem pertanian digital. Pemerintah daerah juga disarankan untuk mempercepat integrasi data dan sistem monitoring lahan secara digital guna mengantisipasi ancaman krisis pangan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Contoh inspiratif dari negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand yang berhasil meningkatkan produktivitas padi berkat teknologi digital menjadi bukti bahwa perubahan adalah mungkin. Indonesia, meski menjadi produsen beras terbesar di ASEAN, masih tertinggal secara produktivitas per hektar. Hal ini menurut Henri menjadi sinyal kuat bahwa pendekatan konvensional harus ditinggalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai bagian dari solusi, Henri menyoroti pentingnya mengembangkan \u201cSmart Farming\u201d yang memungkinkan petani memantau kondisi lahan secara real-time, mengatur jadwal tanam secara presisi, hingga melakukan pemasaran hasil panen secara digital tanpa perantara. Keuntungan ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini menjadi cermin dari komitmen Lemhannas RI untuk terus melahirkan gagasan visioner yang mampu menjawab tantangan nasional. Dalam konteks ketahanan pangan, gagasan Henri membuka ruang dialog antara teknologi dan pertanian sebagai dua kutub strategis yang tak dapat dipisahkan di era digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui tulisan ini, Henri Ahmad Badawi menyampaikan kontribusi pemikirannya kepada Lemhannas RI dan masyarakat luas, dengan harapan dapat menjadi rujukan bagi kebijakan pembangunan sektor pertanian ke depan. Dengan langkah-langkah strategis yang terukur dan dukungan semua pihak, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi negara agraris yang tidak hanya mandiri, tetapi juga berdaulat dalam urusan pangannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini dapat diakses melalui layanan koleksi perpustakaan Lemhannas RI dan menjadi bahan bacaan reflektif bagi para pemangku kepentingan, peneliti, dan generasi muda yang tertarik dengan isu ketahanan nasional, transformasi digital, dan pembangunan berkelanjutan. (MF\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kolonel Pnb Henri Ahmad Badawi, S.M., M.M., M.Han., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI, menghadirkan gagasan strategis [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-425","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kolonel Pnb Henri Ahmad Badawi, S.M., M.M., M.Han., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI, menghadirkan gagasan strategis [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/425","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=425"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/425\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=425"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=425"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=425"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}