{"id":380,"date":"2025-08-28T08:00:00","date_gmt":"2025-08-28T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=380"},"modified":"2025-10-02T14:19:05","modified_gmt":"2025-10-02T07:19:05","slug":"menguatkan-budaya-politik-untuk-menyongsong-demokrasi-berkualitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=380","title":{"rendered":"Menguatkan Budaya Politik untuk Menyongsong Demokrasi Berkualitas"},"content":{"rendered":"\n<p>Kolonel Tek. Imam Prayogo, S.T., M.M., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, melalui Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul <em>Penguatan Budaya Politik Guna Meningkatkan Kualitas Demokrasi di Indonesia<\/em>, mengangkat isu mendesak mengenai lemahnya budaya politik sebagai penghambat utama konsolidasi demokrasi di tanah air. Dalam karya ini, penulis menyoroti pentingnya membenahi aspek kultural politik untuk memperkuat kualitas demokrasi Indonesia, yang hingga kini masih dikategorikan sebagai \u201cflawed democracy\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Penurunan skor indeks demokrasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi indikasi bahwa pembangunan politik belum disertai dengan transformasi budaya politik yang seimbang. Berdasarkan laporan The Economist Intelligence Unit, pada tahun 2023 Indonesia hanya memperoleh skor 6,53 dan berada pada peringkat ke-56 dari 167 negara. Salah satu komponen yang paling merosot adalah budaya politik, dengan skor yang terus menurun dalam kurun 2010 hingga 2023.<\/p>\n\n\n\n<p>Imam Prayogo menekankan bahwa demokrasi tidak hanya bertumpu pada institusi formal seperti pemilu dan parlemen, tetapi juga pada kesadaran politik masyarakat serta etika politik elite dan partai politik. Demokrasi prosedural tanpa didukung oleh budaya politik yang kuat, menurutnya, tidak akan menghasilkan pemerintahan yang berkualitas, transparan, dan berpihak kepada rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Taskap ini, budaya politik dijelaskan sebagai sikap, nilai, dan keyakinan masyarakat terhadap sistem politik dan peran mereka di dalamnya. Oleh karena itu, penguatan budaya politik harus menyentuh seluruh lapisan, mulai dari partai politik sebagai pelaku utama hingga masyarakat sebagai subjek demokrasi. Ketimpangan budaya politik inilah yang seringkali membuka celah bagi praktik-praktik seperti politik uang, politik identitas, hingga dinasti politik.<\/p>\n\n\n\n<p>Parpol, sebagai infrastruktur politik yang memiliki kewenangan dalam rekrutmen dan kaderisasi politik, disebut masih belum optimal menjalankan fungsinya dalam membangun budaya politik yang sehat. Banyak partai politik terjebak dalam praktik oligarki, patronase, dan dinasti politik, yang bukan hanya mencoreng integritas pemilu tetapi juga menghambat munculnya pemimpin berkualitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena pragmatisme politik terlihat dari dominasi calon pemimpin yang muncul karena hubungan kekerabatan atau kekuatan modal, bukan karena kapasitas dan integritas. Situasi ini diperparah dengan maraknya praktik &#8220;broker politik&#8221; yang menjadikan kontestasi elektoral sebagai arena transaksional, menggeser esensi demokrasi yang seharusnya menjadi sarana mencapai keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, Imam Prayogo juga menguraikan berbagai data yang mengindikasikan lemahnya kesadaran demokrasi masyarakat, seperti tingginya toleransi terhadap politik uang dan rendahnya kepercayaan publik terhadap partai politik. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan politik belum berhasil menanamkan nilai-nilai demokrasi yang substansial kepada masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kerangka teoritis yang digunakannya, penulis mengadopsi pendekatan <em>scenario building and planning<\/em> untuk memetakan langkah strategis yang dapat diambil dalam memperkuat budaya politik. Ia menyarankan agar proses penguatan ini dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, melalui reformasi internal partai politik, penegakan regulasi politik yang adil, serta peningkatan literasi politik masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Taskap ini juga menyajikan analisis komparatif terhadap budaya politik negara-negara lain sebagai pembanding, yang menunjukkan bahwa negara-negara dengan demokrasi matang memiliki sistem kaderisasi politik yang kuat, penghargaan terhadap integritas pemimpin, dan partisipasi aktif masyarakat yang dilandasi kesadaran kritis.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan kesimpulan yang disampaikan, Imam Prayogo menilai bahwa demokrasi Indonesia baru sebatas prosedural, belum substansial. Demokrasi substansial hanya akan terwujud jika budaya politik yang inklusif, rasional, dan etis dapat tumbuh dan diterapkan secara luas, baik oleh elite politik maupun masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai rekomendasi, penulis mengusulkan perlunya perbaikan sistem kaderisasi di tubuh partai politik, penegakan hukum terhadap praktik politik transaksional, serta peningkatan pendidikan politik yang berbasis nilai-nilai Pancasila. Semua elemen ini harus diintegrasikan dalam peta jalan pembangunan demokrasi nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulisan Taskap ini juga menunjukkan bahwa upaya penguatan budaya politik bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat sipil, akademisi, dan media dalam membangun narasi politik yang sehat dan mencerdaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan semakin mendekatnya target Indonesia Emas 2045, maka pembangunan budaya politik menjadi elemen krusial yang tidak boleh diabaikan. Kegagalan dalam membangun budaya politik yang kuat akan berdampak pada stagnasi demokrasi dan krisis legitimasi pemerintahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya, melalui Taskap ini, Imam Prayogo berharap dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif bagi Lemhannas RI, para pemangku kebijakan, serta seluruh elemen bangsa yang tengah berjuang mewujudkan demokrasi Indonesia yang matang, substantif, dan berkelanjutan. (IP\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kolonel Tek. Imam Prayogo, S.T., M.M., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, melalui Kertas Karya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-380","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kolonel Tek. Imam Prayogo, S.T., M.M., peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXVII Lemhannas RI Tahun 2024, melalui Kertas Karya [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/380","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=380"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/380\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=380"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=380"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=380"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}