{"id":1711,"date":"2026-09-08T13:02:00","date_gmt":"2026-09-08T06:02:00","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1711"},"modified":"2026-09-09T09:25:41","modified_gmt":"2026-09-09T02:25:41","slug":"menjadikan-penyelam-alam-sebagai-talenta-maritim-unggul-untuk-memperkuat-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1711","title":{"rendered":"Menjadikan Penyelam Alam sebagai Talenta Maritim Unggul untuk Memperkuat Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Laksamana Pertama TNI Yosua Dominggus Aipassa melalui KKP P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025 berjudul \u201cPeningkatan Kompetensi Penyelam Alam Guna Mewujudkan SDM Unggul dalam Rangka Ketahanan Nasional\u201d mengkaji pembangunan SDM, keselamatan kerja, kemandirian industri, dan ketahanan nasional melalui peningkatan kompetensi underwater welding.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebutuhan tenaga ahli pengelasan bawah air terus meningkat pada industri migas lepas pantai, konstruksi maritim, dan infrastruktur bawah laut. Namun, keterbatasan kompetensi dan sertifikasi tenaga lokal masih menimbulkan ketergantungan terhadap tenaga kerja asing.<\/p>\n\n\n\n<p>Akses pelatihan juga belum merata karena fasilitas berstandar masih terkonsentrasi di Jakarta, Cilegon, Batam, dan Surabaya. Sementara itu, biaya pelatihan dan sertifikasi sekitar Rp 40\u201355 juta menjadi hambatan bagi penyelam alam di wilayah pesisir dan pulau kecil.<\/p>\n\n\n\n<p>Tingkat pendidikan menjadi tantangan lain. Studi di Bintan menunjukkan 96,96 persen dari 74 responden penyelam berpendidikan maksimal sekolah dasar, sehingga pelatihan perlu menggunakan metode praktis, visual, dan berbasis simulasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesenjangan kompetensi juga berdampak pada K3. Di Derawan, 83,3 persen dari 186 penyelam pernah mengalami kecelakaan kerja; di Bintan, 75,68 persen mengalami barotrauma telinga; sedangkan studi di Mamokeng dan Tatengesan menunjukkan tingginya kasus dekompresi dan gangguan pendengaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, peningkatan kompetensi harus mencakup sertifikasi, budaya kerja, dan penerapan K3. Persoalan pendidikan, biaya, akses, pendapatan, dan perlindungan sosial perlu ditangani secara terpadu untuk memperkuat ketersediaan tenaga ahli maritim nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP menggunakan metode deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan dan data sekunder. Pendekatan Asta Gatra digunakan untuk menganalisis berbagai aspek ketahanan nasional, sedangkan SWOT digunakan sebagai dasar perumusan strategi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian menggunakan Human Capital Theory, Capability Approach, dan Social Cognitive Theory. Ketiganya menempatkan pelatihan sebagai investasi produktivitas, perluasan kesempatan hidup yang aman, serta pembentukan kepercayaan diri melalui pengalaman dan dukungan sosial.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Pelatihan underwater welding karena itu harus melampaui transfer keterampilan. Praktik, simulasi Virtual Reality, mini dive tank, dan pendampingan instruktur diperlukan untuk membangun kompetensi, keselamatan, kepercayaan diri, dan profesionalisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif Asta Gatra, hambatan meliputi kondisi geografis kepulauan, rendahnya pendidikan, keterbatasan ekonomi, budaya kerja informal, dan ketergantungan tenaga asing. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kebijakan yang terintegrasi dan berorientasi pada kemandirian nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>SWOT menunjukkan kekuatan penyelam berupa kemampuan bawah air, pengetahuan maritim lokal, ketahanan fisik, dan etos kerja. Kelemahannya adalah minim sertifikasi dan penerapan K3, sedangkan peluang berasal dari kebutuhan industri, dukungan pemerintah, kemitraan, dan teknologi pelatihan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui TOWS, strategi diarahkan pada sertifikasi cepat dan link and match dengan industri, perluasan akses melalui Mobile Training Unit (MTU), penguatan K3 dan kesehatan, digitalisasi informasi, serta harmonisasi sertifikasi dengan standar global.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian menilai persoalan utama bukan hanya fasilitas, tetapi belum adanya strategi nasional yang mengintegrasikan pemerintah, industri, lembaga pendidikan, dan komunitas penyelam. Karena itu, paradigma perlu bergeser dari \u201ctraining for skill\u201d menuju \u201ctraining for empowerment\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Alternatif pertama adalah revitalisasi BLK Maritim dengan subsidi bagi penyelam alam, dilengkapi simulator las, dive tank, kurikulum industri, dan sertifikasi yang diakui. Jaringan BLK pesisir diharapkan membentuk talent pipeline menuju tenaga profesional.<\/p>\n\n\n\n<p>Alternatif kedua adalah Public-Private Partnership (PPP) melalui skema ikatan dinas. Industri menjadi sponsor sekaligus pengguna lulusan, sementara pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator dengan pembiayaan pelatihan, sertifikasi, akomodasi, dan uang saku.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari berbagai alternatif, KKP memilih NAUTICA atau National Underwater-welding Talent Incubation &amp; Acceleration sebagai pendekatan paling komprehensif. Program ini mengintegrasikan PPP, ikatan dinas, dan MTU yang membawa simulator VR, mini dive tank, serta peralatan K3 langsung ke komunitas penyelam.<\/p>\n\n\n\n<p>NAUTICA dilaksanakan melalui percontohan dan replikasi nasional. Program diawali proof of concept bersama industri, kemudian diperluas ke sektor maritim, energi, dan pertahanan untuk memperkuat SDM, meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi ketergantungan tenaga asing.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Jangka pendek difokuskan pada pelatihan dasar, pemeriksaan kesehatan, dan K3; jangka menengah pada kemitraan, MTU, dan sertifikasi BNSP; sedangkan jangka panjang mencakup BLK Maritim nasional, harmonisasi standar internasional, dan integrasi program menuju Indonesia Emas 2045.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP merekomendasikan NAUTICA sebagai kebijakan nasional berbasis PPP, revitalisasi BLK Maritim pesisir, pengembangan MTU melalui kolaborasi pemerintah, TNI AL, dan industri, serta pembentukan Dewan Koordinasi Nasional SDM Maritim. Industri juga didorong mengintegrasikan pelatihan dalam CSR dan membuka peluang kerja bagi lulusan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, underwater welding dapat menjadi instrumen transformasi penyelam alam menjadi tenaga profesional tersertifikasi. Melalui pendekatan Human Capital Theory, Capability Approach, Social Cognitive Theory, Asta Gatra, SWOT, TOWS, dan NAUTICA, program ini diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, memperkuat kemandirian industri dan energi, serta mendukung ketahanan dan kedaulatan maritim Indonesia. (AT\/GT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laksamana Pertama TNI Yosua Dominggus Aipassa melalui KKP P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025 berjudul \u201cPeningkatan Kompetensi Penyelam Alam Guna [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1711","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Laksamana Pertama TNI Yosua Dominggus Aipassa melalui KKP P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025 berjudul \u201cPeningkatan Kompetensi Penyelam Alam Guna [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1711","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1711"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1711\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1712,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1711\/revisions\/1712"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1711"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1711"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1711"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}