{"id":1686,"date":"2026-08-06T11:39:00","date_gmt":"2026-08-06T04:39:00","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1686"},"modified":"2026-08-19T10:33:01","modified_gmt":"2026-08-19T03:33:01","slug":"kepemimpinan-transformasional-untuk-membentuk-generasi-muda-unggul-dan-memperkuat-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1686","title":{"rendered":"Kepemimpinan Transformasional untuk Membentuk Generasi Muda Unggul dan Memperkuat Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Dr. Rabiatul Adawiyah Hamid, M.Pd., peserta P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, melalui KKP berjudul \u201cKepemimpinan Transformasional Guna Membentuk Karakter Generasi Muda Unggul dalam Rangka Ketahanan Nasional\u201d<strong>, <\/strong>mengkaji kepemimpinan transformasional sebagai strategi pembentukan karakter generasi muda menghadapi globalisasi, disrupsi teknologi, hoaks, degradasi moral, dan krisis identitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Pembentukan karakter generasi muda dipandang sebagai persoalan strategis Ketahanan Nasional. Generasi yang berintegritas, tangguh, nasionalis, adaptif, dan berdaya saing menjadi kekuatan pembangunan, sedangkan bonus demografi dapat menjadi tantangan apabila tidak diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan lingkungan strategis global dan regional menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Perkembangan digital mempercepat akses informasi, tetapi juga meningkatkan risiko hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, dan penetrasi nilai yang dapat melemahkan jati diri bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks nasional, karakter generasi muda berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan bangsa, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya hingga pertahanan dan keamanan. Karena itu, diperlukan generasi yang ber-Pancasila, toleran, produktif, mandiri, memiliki kesadaran bela negara, dan tangguh menghadapi ancaman digital maupun nonmiliter.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP menggunakan konsep kepemimpinan transformasional Burns dan Bass yang menekankan empat dimensi, yaitu keteladanan, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan perhatian individual<strong>.<\/strong> Keempatnya diarahkan untuk mengubah nilai, pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsep tersebut dipadukan dengan pembentukan karakter melalui moral knowing, moral feeling, dan moral action. Artinya, karakter tidak cukup dipahami, tetapi harus dihayati dan diwujudkan dalam perilaku sehingga melahirkan generasi berintegritas, resilien, kompeten, nasionalis, dan mampu memimpin secara kolaboratif.<\/p>\n\n\n\n<p>Tantangan utama terletak pada belum sinergisnya keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter. Kondisi tersebut diperparah krisis keteladanan, dominasi kepemimpinan transaksional, serta pendidikan karakter yang masih cenderung teoritis dan belum konsisten dalam praktik.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Teknologi digital perlu diubah dari potensi ancaman menjadi sarana pembentukan karakter. Kepemimpinan transformasional dapat mengarahkan teknologi untuk memperkuat literasi digital, kreativitas, berpikir kritis, inovasi, dan kemampuan adaptasi generasi muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepemimpinan transformasional juga harus mampu menghadapi keterbatasan sumber daya dan resistensi perubahan. Inovasi seperti laboratorium portabel di SD Antawirya menunjukkan bahwa keterbatasan dapat diubah menjadi peluang untuk membangun kreativitas, inovasi, dan karakter resilien.<\/p>\n\n\n\n<p>Implementasi kepemimpinan transformasional menghadapi tantangan berupa fragmentasi ekosistem, resistensi perubahan, ketergantungan pada figur pemimpin, keterbatasan sumber daya, dan sulitnya mengukur perubahan karakter. Karena itu, diperlukan kebijakan berkelanjutan, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas, dan tata kelola adaptif.<\/p>\n\n\n\n<p>Bonus demografi merupakan peluang strategis yang harus diimbangi peningkatan pendidikan, kompetensi, karakter, literasi digital, kewirausahaan, dan daya saing. Kepemimpinan transformasional berperan mengintegrasikan pembangunan kompetensi dengan pembentukan karakter generasi muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Generasi muda unggul tidak hanya ditandai kemampuan akademik, tetapi juga integritas moral, ketangguhan mental, wawasan, kompetensi kepemimpinan, dan komitmen kebangsaan. Karakter tersebut menjadi modal menghadapi disinformasi, perubahan global, tekanan sosial, dan persaingan internasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif Ketahanan Nasional, karakter generasi muda memperkuat berbagai aspek kehidupan bangsa. Integritas dan nasionalisme mendukung ideologi, produktivitas memperkuat ekonomi, toleransi memperkokoh sosial budaya, sementara disiplin, bela negara, dan literasi digital meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP menawarkan tiga tahapan implementasi, yaitu Konsolidasi 2025\u20132030, Akselerasi 2031\u20132035, dan Stabilisasi 2036\u20132045<strong>. <\/strong>Tahapan tersebut diarahkan untuk membangun, mempercepat, dan melembagakan pembentukan karakter secara berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Fase konsolidasi diarahkan pada penguatan pendidikan karakter, kapasitas pendidik, budaya keteladanan, Sekolah Penggerak, dan integrasi kepemimpinan transformasional dalam pembelajaran. Pendidikan karakter harus menjadi bagian dari proses pendidikan, bukan sekadar program tambahan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Pembentukan karakter juga harus melibatkan keluarga dan masyarakat. Keluarga diperkuat melalui pola asuh dan literasi digital, sedangkan masyarakat menjadi ruang aktualisasi melalui mentoring, kegiatan sosial, dan pengembangan bakat generasi muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Evaluasi pendidikan karakter perlu bergeser dari sekadar capaian akademik menuju perubahan perilaku, kebiasaan, dan kontribusi sosial. Keberhasilan karakter harus terlihat dalam tindakan nyata dan kontribusinya terhadap penguatan Ketahanan Nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepemimpinan transformasional perlu dikontekstualisasikan dengan Pancasila dan kearifan lokal Nusantara. Nilai gotong royong, toleransi, kebersamaan, dan wawasan kebangsaan harus menjadi fondasi agar generasi muda mampu mengikuti perubahan global tanpa kehilangan identitas nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, kepemimpinan transformasional perlu dibangun sebagai ekosistem yang sinergis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keteladanan, inspirasi, berpikir kritis-kreatif, dan pendampingan harus diterapkan secara konsisten untuk melahirkan generasi berintegritas, resilien, kolaboratif, visioner, dan memiliki literasi digital sebagai kekuatan Ketahanan Nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, kepemimpinan transformasional merupakan instrumen strategis pembangunan manusia Indonesia. Pembentukan karakter membutuhkan keteladanan, kesinambungan kebijakan, sinergi pemangku kepentingan, pemanfaatan teknologi, dan penguatan ekosistem pendidikan. Generasi muda berkualitas hari ini menjadi fondasi Indonesia yang tangguh, adaptif, berdaya saing, dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045. (AT\/GT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Rabiatul Adawiyah Hamid, M.Pd., peserta P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, melalui KKP berjudul \u201cKepemimpinan Transformasional Guna Membentuk Karakter [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1686","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Dr. Rabiatul Adawiyah Hamid, M.Pd., peserta P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, melalui KKP berjudul \u201cKepemimpinan Transformasional Guna Membentuk Karakter [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1686","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1686"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1686\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1687,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1686\/revisions\/1687"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1686"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1686"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1686"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}