{"id":1681,"date":"2026-08-24T12:11:00","date_gmt":"2026-08-24T05:11:00","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1681"},"modified":"2026-09-09T09:05:42","modified_gmt":"2026-09-09T02:05:42","slug":"optimalisasi-pangan-akuatik-strategi-memperkuat-ketahanan-pangan-dan-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1681","title":{"rendered":"Optimalisasi Pangan Akuatik: Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan dan Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih menghadapi berbagai tantangan. Melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, <strong>Stephen Christian Nusantara, B.Bus, M.A.A.<\/strong> mengangkat judul <strong>\u201cOptimalisasi Produksi Pangan Akuatik Menuju Ketahanan Pangan Nasional\u201d<\/strong> sebagai kajian strategis untuk mendorong penguatan ketahanan pangan sekaligus ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kajiannya, Stephen menyoroti besarnya potensi perikanan tangkap Indonesia yang mencapai sekitar 12,01 juta ton per tahun. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dapat dikonversi menjadi produksi yang optimal karena realisasi produksi masih berada di sekitar 7,5 juta ton. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber daya dan kemampuan produksi nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi, tetapi juga dengan kemampuan menciptakan nilai tambah. Tingginya kehilangan pascapanen atau post-harvest loss yang berada pada kisaran 20\u201329 persen serta limbah Unit Pengolahan Ikan yang dapat mencapai 41 persen menjadi indikator masih adanya inefisiensi dalam rantai produksi pangan akuatik.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu persoalan penting yang dibahas adalah keterbatasan infrastruktur, khususnya sistem rantai dingin atau cold chain. Pemanfaatan cold storage yang masih rendah menyebabkan kualitas produk sulit dipertahankan secara optimal dari sentra produksi hingga konsumen. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga membuat konektivitas dan distribusi menjadi tantangan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain infrastruktur, teknologi dan permodalan menjadi faktor yang turut memengaruhi produktivitas. Investasi di sektor ini masih rendah, sementara sebagian pelaku usaha masih mengandalkan metode pengolahan tradisional. Keterbatasan tersebut membuat peluang pengembangan produk bernilai tambah tinggi belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Aspek sumber daya manusia juga menjadi perhatian dalam KKP ini. Struktur tenaga kerja sektor perikanan yang cenderung menua dan keterampilan yang masih didominasi metode tradisional menjadi tantangan bagi proses modernisasi. Regenerasi pelaku usaha serta peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan penting untuk mendukung penerapan teknologi dan hilirisasi.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Stephen juga melihat bahwa permasalahan pangan akuatik memiliki keterkaitan erat dengan empat pilar ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Kehilangan pascapanen dapat mengurangi ketersediaan pangan, sementara keterbatasan logistik dan rantai dingin menghambat akses masyarakat terhadap pangan akuatik yang berkualitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi pemanfaatan, penurunan kualitas produk akibat penanganan yang belum optimal dapat memengaruhi nilai gizi pangan. Sementara itu, perubahan iklim, volatilitas harga input, ancaman Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing), serta ketergantungan terhadap pasokan dari luar menjadi faktor yang dapat mengganggu stabilitas pangan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk memahami persoalan tersebut secara menyeluruh, KKP menggunakan pendekatan Asta Gatra dan analisis SWOT yang kemudian dikembangkan melalui matriks TOWS. Pendekatan ini memungkinkan persoalan produksi pangan akuatik dilihat tidak hanya dari aspek ekonomi dan teknis, tetapi juga dari perspektif geografi, demografi, sumber kekayaan alam, politik, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian tersebut menempatkan konsep Ekonomi Biru sebagai salah satu landasan penting dalam optimalisasi pangan akuatik. Pendekatan ini mendorong pemanfaatan sumber daya laut secara inovatif dan berkelanjutan, termasuk mengubah limbah menjadi sumber nilai ekonomi baru. Dengan demikian, peningkatan produksi tidak semata-mata mengejar volume, tetapi juga memperhatikan efisiensi, keberlanjutan, dan nilai tambah.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil analisis selanjutnya mendorong perubahan paradigma dari pendekatan yang bersifat parsial menuju strategi holistik berbasis ekosistem. Fokus utamanya adalah peningkatan nilai atau value enhancement yang mengintegrasikan peningkatan volume produksi, stabilitas pasokan, keberlanjutan sumber daya, serta kemandirian nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu gagasan utama yang ditawarkan dalam KKP ini adalah pengembangan platform digital terintegrasi bernama <strong>Jala Samudera Nusantara (JSN)<\/strong>. Platform tersebut dirancang sebagai sebuah \u201csistem operasi\u201d nasional yang dapat mengorkestrasi rantai nilai perikanan tangkap melalui pemanfaatan data, blockchain, artificial intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT).<\/p>\n\n\n\n<p>Implementasi JSN diarahkan untuk mendukung keterlacakan produk, meningkatkan efisiensi perikanan, memperkuat sistem logistik, serta mengintegrasikan berbagai data yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Dalam tahap pengembangannya, JSN mencakup modul traceability berbasis blockchain, perikanan presisi berbasis AI, dan logistik cerdas yang memanfaatkan data IoT pada sistem cold chain.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Strategi tersebut juga menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai faktor penting. Kementerian\/Lembaga, lembaga riset, industri pengolahan, asosiasi eksportir, serta pemangku kepentingan lainnya perlu membangun interoperabilitas data dan ekosistem yang mendukung hilirisasi. Kolaborasi diperlukan agar kebijakan tidak berjalan secara sektoral, melainkan terintegrasi dari hulu hingga hilir.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi peningkatan daya saing, kajian merekomendasikan pengembangan produk pangan akuatik bernilai tambah serta penguatan akses pasar premium global. Pemanfaatan teknologi traceability, sertifikasi berkelanjutan, standardisasi produk, dan penguatan branding \u201cIndonesian Blue Food\u201d dipandang dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam jangka menengah dan panjang, JSN diarahkan untuk diperluas ke berbagai wilayah pengelolaan perikanan dan Unit Pengolahan Ikan. Sistem ini juga diharapkan terintegrasi dengan data perikanan nasional dan didukung oleh National Fisheries Command Center untuk mengolah data secara real-time sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, optimalisasi pangan akuatik dipandang bukan sekadar agenda peningkatan produksi sektor kelautan dan perikanan. Upaya tersebut berkaitan langsung dengan pemenuhan pangan bergizi, penciptaan nilai ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan kemandirian pangan, hingga perlindungan kedaulatan sumber daya maritim.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui KKP ini, Stephen Christian Nusantara menegaskan pentingnya membangun ekosistem pangan akuatik yang efisien, resilien, mandiri, dan berkelanjutan. Optimalisasi produksi melalui peningkatan nilai, transformasi digital, hilirisasi, penguatan SDM, serta kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional dan pada akhirnya bermuara pada semakin kokohnya ketahanan nasional Indonesia. (IP\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih menghadapi berbagai tantangan. Melalui Kertas Kerja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1681","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih menghadapi berbagai tantangan. Melalui Kertas Kerja [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1681"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1681\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1682,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1681\/revisions\/1682"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}