{"id":1400,"date":"2026-07-06T13:35:08","date_gmt":"2026-07-06T06:35:08","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1400"},"modified":"2026-07-22T13:40:23","modified_gmt":"2026-07-22T06:40:23","slug":"membangun-sistem-pertahanan-terintegrasi-ikn-untuk-menghadapi-ancaman-multi-domain-menuju-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1400","title":{"rendered":"Membangun Sistem Pertahanan Terintegrasi IKN untuk Menghadapi Ancaman Multi Domain Menuju Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Pemindahan Ibu Kota Negara ke Nusantara tidak hanya menjadi simbol pemerataan pembangunan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru di bidang pertahanan negara. Melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul &#8220;Formulasi Strategi Pertahanan Terintegrasi Ibu Kota Nusantara (IKN) Guna Menghadapi Ancaman Multi Domain Dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional&#8221;, peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, Marsekal Pertama TNI Indrastanto Setiawan,<strong> <\/strong>S.Sos., menawarkan formulasi strategi pertahanan yang adaptif dan terintegrasi sebagai fondasi keamanan IKN di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP ini berangkat dari pemahaman bahwa IKN merupakan pusat pemerintahan baru sekaligus pusat gravitasi nasional yang harus memiliki sistem pertahanan mampu menjawab dinamika lingkungan strategis global yang semakin kompleks. Ancaman terhadap negara kini tidak lagi bersifat konvensional, tetapi berkembang menjadi ancaman multidomain yang melibatkan ruang darat, laut, udara, siber, ruang angkasa, hingga domain informasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan karakter ancaman tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya rivalitas geopolitik, perkembangan teknologi militer, serta kemajuan digitalisasi yang menjadikan infrastruktur pemerintahan semakin rentan terhadap serangan siber, disinformasi, maupun operasi hibrida. Oleh karena itu, sistem pertahanan IKN memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dibandingkan sistem pertahanan konvensional.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini mengidentifikasi bahwa posisi geografis IKN di Kalimantan Timur memiliki nilai strategis karena berada dekat Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan jalur pelayaran internasional. Kondisi tersebut memberikan keuntungan strategis sekaligus meningkatkan kerawanan terhadap berbagai potensi ancaman keamanan regional maupun global.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis juga menilai bahwa pembangunan IKN sebagai kota pintar membutuhkan perlindungan terhadap infrastruktur digital, pusat data, jaringan komunikasi, dan sistem pelayanan pemerintahan berbasis teknologi. Ancaman siber terhadap fasilitas-fasilitas tersebut dapat berdampak langsung terhadap stabilitas pemerintahan apabila tidak diantisipasi melalui sistem keamanan yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menganalisis permasalahan tersebut, KKP menggunakan pendekatan Ketahanan Nasional melalui Asta Gatra dan ATHG, dipadukan dengan konsep Multi-Domain Operations (MDO), Hybrid Warfare, C4ISR, serta Smart Defense City. Pendekatan ini menghasilkan analisis yang menyeluruh terhadap aspek geografis, politik, ekonomi, sosial, teknologi, hingga pertahanan dan keamanan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Hasil kajian menunjukkan bahwa kesiapan pertahanan IKN masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya belum optimalnya interoperabilitas antarinstansi, keterbatasan infrastruktur C4ISR, belum terintegrasinya sistem komando lintas domain, serta perlunya penguatan koordinasi kelembagaan dalam menghadapi ancaman yang semakin kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain tantangan kelembagaan, kajian ini juga mengidentifikasi faktor pendukung berupa landasan regulasi yang cukup kuat, komitmen pemerintah dalam membangun IKN, serta peluang pemanfaatan teknologi pertahanan modern. Seluruh potensi tersebut menjadi modal penting untuk membangun sistem pertahanan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai solusi, penulis menawarkan formulasi strategi pertahanan terintegrasi yang menggabungkan kekuatan militer dan nonmiliter dalam kerangka Sistem Pertahanan Semesta. Strategi tersebut diarahkan untuk menciptakan sinergi antar kementerian, lembaga, TNI, Polri, pemerintah daerah, Otorita IKN, sektor swasta, akademisi, hingga masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu rekomendasi utama adalah pembentukan sistem komando pertahanan terpadu yang mampu mengintegrasikan operasi darat, laut, udara, siber, ruang angkasa, dan informasi secara simultan. Integrasi tersebut didukung oleh penguatan sistem C4ISR agar proses pengambilan keputusan dapat berlangsung lebih cepat, akurat, dan efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini juga menekankan pentingnya pembangunan sistem pertahanan udara dan pertahanan siber berlapis sebagai bentuk perlindungan terhadap objek vital nasional, pusat pemerintahan, serta infrastruktur digital yang menjadi tulang punggung penyelenggaraan pemerintahan di IKN.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain aspek teknologi, pembangunan ketahanan nasional juga memerlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui literasi pertahanan, penguatan wawasan kebangsaan, serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman informasi dan disinformasi. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari pertahanan nonmiliter yang semakin relevan pada era digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Implementasi konsep Smart Defense City menjadi salah satu inovasi strategis dalam KKP ini. Konsep tersebut memadukan keamanan fisik, keamanan digital, dan ketahanan sosial sehingga pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga mampu menjaga stabilitas nasional secara berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui analisis SWOT, TOWS, dan roadmap strategis, penulis menyusun langkah implementasi yang realistis mulai dari penguatan regulasi, peningkatan interoperabilitas, pembangunan infrastruktur pertahanan, hingga pengembangan kolaborasi lintas sektor. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat kesiapan sistem pertahanan IKN.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>KKP ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan IKN tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kesiapan sistem pertahanan nasional yang mampu melindungi pusat pemerintahan dari berbagai ancaman multidomain. Oleh sebab itu, pembangunan pertahanan harus berjalan selaras dengan pembangunan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, kajian ini menunjukkan bahwa ketahanan nasional hanya dapat diwujudkan apabila seluruh komponen bangsa mampu membangun sinergi dalam menghadapi tantangan strategis yang terus berkembang. Pendekatan kolaboratif menjadi kunci untuk memperkuat daya tangkal Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi yang disampaikan dalam KKP ini diharapkan menjadi masukan strategis bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pertahanan IKN yang modern, adaptif, serta berorientasi jangka panjang sesuai visi Indonesia Emas 2045.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai karya ilmiah strategis, KKP ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya khazanah pemikiran mengenai pembangunan sistem pertahanan nasional yang terintegrasi. Gagasan yang ditawarkan tidak hanya relevan bagi pembangunan IKN, tetapi juga dapat menjadi referensi dalam penguatan sistem pertahanan Indonesia secara menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui kajian ini, Perpustakaan Lemhannas RI kembali menghadirkan karya ilmiah yang memberikan perspektif strategis terhadap isu-isu aktual kebangsaan. KKP karya Marsekal Pertama TNI Indrastanto Setiawan menjadi salah satu referensi penting bagi akademisi, praktisi, pengambil kebijakan, maupun masyarakat yang ingin memahami arah pembangunan pertahanan IKN sebagai bagian dari upaya memperkokoh Ketahanan Nasional. (AT\/GT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemindahan Ibu Kota Negara ke Nusantara tidak hanya menjadi simbol pemerataan pembangunan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru di bidang pertahanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1400","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Pemindahan Ibu Kota Negara ke Nusantara tidak hanya menjadi simbol pemerataan pembangunan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru di bidang pertahanan [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1400","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1400"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1401,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1400\/revisions\/1401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}