{"id":1290,"date":"2026-06-18T10:21:49","date_gmt":"2026-06-18T03:21:49","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1290"},"modified":"2026-06-18T10:21:49","modified_gmt":"2026-06-18T03:21:49","slug":"strategi-komunikasi-media-sebagai-pilar-ketahanan-energi-dan-pangan-berkelanjutan-untuk-memperkuat-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1290","title":{"rendered":"Strategi Komunikasi Media sebagai Pilar Ketahanan Energi dan Pangan Berkelanjutan untuk Memperkuat Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Ketahanan energi dan pangan merupakan dua pilar utama yang menentukan kemampuan suatu bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global. Melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Tahun 2025 berjudul <em>\u201cStrategi Komunikasi Media dalam Mendukung Ketahanan Energi dan Pangan Berkelanjutan untuk Memperkuat Ketahanan Nasional\u201d<\/em>, Haryo Ristamaji, S.Kom., M.I.Kom., mengangkat pentingnya peran komunikasi media sebagai instrumen strategis dalam membangun kesadaran publik serta memperkuat dukungan masyarakat terhadap agenda ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kompleksitas lingkungan strategis global yang ditandai oleh perubahan iklim, percepatan teknologi, ketidakpastian geopolitik, serta gangguan rantai pasok energi dan pangan dunia. Dalam situasi tersebut, kemampuan pemerintah untuk menyampaikan informasi secara efektif kepada masyarakat menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan implementasi kebijakan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut penulis, tantangan utama yang dihadapi Indonesia saat ini bukan hanya terkait ketersediaan energi dan pangan, tetapi juga belum optimalnya strategi komunikasi publik yang mampu menjelaskan urgensi kedua sektor tersebut kepada masyarakat secara terpadu. Akibatnya, berbagai program strategis pemerintah sering kali belum memperoleh pemahaman dan dukungan publik yang memadai.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP ini menjelaskan bahwa komunikasi publik mengenai energi dan pangan masih berlangsung secara sektoral, terfragmentasi, dan belum membentuk narasi nasional yang kuat. Padahal, di era digital yang ditandai derasnya arus informasi, masyarakat membutuhkan sumber informasi yang kredibel, konsisten, dan mudah dipahami agar tidak terjebak dalam misinformasi maupun disinformasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif ketahanan nasional, energi dan pangan tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan dasar semata, tetapi telah menjadi faktor strategis yang memengaruhi stabilitas ekonomi, sosial, politik, hingga keamanan negara. Oleh karena itu, pembangunan kesadaran publik mengenai pentingnya ketahanan energi dan pangan harus menjadi bagian integral dari strategi nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif berbasis studi pustaka, data resmi pemerintah, serta berbagai referensi akademik. Pendekatan Astagatra digunakan sebagai kerangka analisis untuk melihat keterkaitan antara aspek geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan dalam konteks komunikasi publik.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya intensitas komunikasi media mengenai isu energi dan pangan menyebabkan tingkat literasi publik pada kedua sektor tersebut masih belum optimal. Banyak masyarakat yang belum memahami hubungan antara perilaku konsumsi energi, pola konsumsi pangan, dan kontribusinya terhadap ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, dominasi media sosial sebagai sumber informasi sering kali memunculkan berbagai informasi yang tidak terverifikasi. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan minimnya narasi tunggal yang mampu menjadi rujukan publik ketika terjadi krisis energi maupun gangguan pasokan pangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menghadapi tantangan tersebut, penulis memperkenalkan sebuah konsep inovatif bernama SMONAR atau <em>Strategic Media Orchestration for National Resilience<\/em>. Model ini dirancang untuk mengintegrasikan komunikasi lintas kementerian dan lembaga agar mampu menghasilkan pesan yang konsisten, terukur, dan berorientasi pada penguatan ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>SMONAR menempatkan Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai orkestrator utama komunikasi publik nasional yang bertugas menyatukan berbagai pesan strategis melalui pendekatan <em>One Narrative Policy<\/em>. Dengan demikian, seluruh pemangku kepentingan dapat menyampaikan informasi yang selaras kepada masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Konsep tersebut juga menekankan pentingnya pembangunan <em>Dashboard Induk Pemantauan Komunikasi Publik Nasional<\/em> yang berfungsi sebagai pusat koordinasi dan pemantauan efektivitas komunikasi publik lintas sektor. Melalui sistem ini, pemerintah dapat mengukur sejauh mana pesan-pesan strategis diterima dan dipahami masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam analisisnya, penulis menegaskan bahwa media arus utama masih memiliki posisi penting sebagai <em>National Public Information Backbone<\/em>. Media profesional yang berpegang pada prinsip verifikasi, akurasi, dan kode etik jurnalistik dinilai mampu menjadi penyeimbang arus informasi yang beredar di ruang digital.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP ini juga menyoroti perlunya penguatan kemitraan antara pemerintah dan media arus utama. Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui penyediaan data yang terbuka, pengembangan jurnalisme berbasis data, serta penyusunan agenda komunikasi yang mendukung program prioritas nasional di bidang energi dan pangan.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Dari sisi ketahanan energi, penelitian menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mencapai target bauran energi baru terbarukan. Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat transisi energi bersih dan pentingnya efisiensi energi dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, dalam sektor pangan, tantangan yang dihadapi mencakup ketergantungan terhadap beberapa komoditas impor, perubahan iklim, serta volatilitas harga pangan global. Komunikasi publik yang efektif diharapkan dapat mendorong kesadaran masyarakat untuk mendukung diversifikasi pangan dan pemanfaatan produk lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis juga menekankan pentingnya pendekatan Hexa Helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, dan sektor keuangan. Sinergi enam unsur tersebut diyakini mampu memperkuat efektivitas komunikasi publik sekaligus mempercepat implementasi kebijakan yang berorientasi pada ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui pendekatan yang terintegrasi, komunikasi publik tidak lagi dipandang hanya sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi menjadi instrumen strategis pertahanan nirmiliter yang berperan membangun kepercayaan publik, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan menjaga stabilitas nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi yang dihasilkan dalam KKP ini mencakup integrasi perencanaan komunikasi publik ke dalam siklus kerja kementerian dan lembaga, pembentukan <em>task force<\/em> komunikasi nasional, penguatan kapasitas jurnalis data, pembangunan pusat komunikasi daerah, serta pengembangan <em>Energy Food Data Hub<\/em> sebagai basis kampanye nasional yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui gagasan SMONAR dan berbagai rekomendasi yang ditawarkan, KKP karya Haryo Ristamaji memberikan perspektif baru mengenai pentingnya komunikasi media dalam mendukung ketahanan energi dan pangan. Kajian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang baik, tetapi juga oleh kemampuan negara membangun narasi yang mampu dipahami, dipercaya, dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai fondasi utama Ketahanan Nasional Indonesia. (AT\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketahanan energi dan pangan merupakan dua pilar utama yang menentukan kemampuan suatu bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global. Melalui Kertas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1290","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Ketahanan energi dan pangan merupakan dua pilar utama yang menentukan kemampuan suatu bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global. Melalui Kertas [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1290","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1290"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1290\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1291,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1290\/revisions\/1291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1290"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1290"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1290"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}