{"id":1269,"date":"2026-06-03T10:50:09","date_gmt":"2026-06-03T03:50:09","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1269"},"modified":"2026-06-17T08:33:22","modified_gmt":"2026-06-17T01:33:22","slug":"penguatan-peran-perempuan-di-era-digital-fondasi-karakter-anak-untuk-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1269","title":{"rendered":"Penguatan Peran Perempuan di Era Digital: Fondasi Karakter Anak untuk Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan literasi strategis terus mendukung diseminasi berbagai karya ilmiah yang dihasilkan peserta pendidikan kepemimpinan nasional. Salah satu karya yang memberikan kontribusi penting terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia adalah Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul <em>\u201cPenguatan Peran Perempuan Guna Pembentukan Karakter Anak di Era Digital dalam Rangka Ketahanan Nasional\u201d<\/em> yang disusun oleh Dwi Arsawidanti, S.Kom., M.Si., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI Tahun 2025. Karya ini mengangkat pentingnya peran perempuan sebagai aktor utama dalam membangun karakter generasi penerus bangsa di tengah derasnya arus transformasi digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, kemajuan teknologi juga membawa tantangan baru yang berdampak pada pola pikir, perilaku, dan karakter generasi muda. Akses informasi yang semakin terbuka memungkinkan anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan secara cepat, tetapi juga membuka peluang masuknya konten negatif yang dapat memengaruhi perkembangan moral dan sosial mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks tersebut, keluarga menjadi benteng pertama dalam membentuk karakter anak. Perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pendidik pertama dan utama dalam lingkungan keluarga. Melalui interaksi sehari-hari, keteladanan, serta pola asuh yang diterapkan, seorang ibu berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai moral, etika, disiplin, dan tanggung jawab kepada anak sejak usia dini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak. Teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby menunjukkan bahwa kedekatan emosional yang kuat antara anak dan pengasuh utamanya akan membentuk rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan anak dalam berinteraksi secara sosial. Oleh karena itu, penguatan kapasitas perempuan dalam menjalankan fungsi pengasuhan menjadi sangat penting di era digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan sosial yang terjadi akibat digitalisasi turut mengubah pola interaksi dalam keluarga. Kehadiran gawai, media sosial, dan berbagai platform digital membuat anak-anak semakin banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Kondisi ini berpotensi mengurangi interaksi langsung dengan keluarga dan lingkungan sosial sehingga dapat memengaruhi proses pembentukan karakter jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang memadai.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>KKP ini juga menyoroti meningkatnya risiko yang dihadapi anak-anak di ruang digital, mulai dari cyberbullying, penyebaran hoaks, konten kekerasan, hingga eksploitasi daring. Berbagai ancaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional, melainkan harus disertai dengan peningkatan literasi digital yang kuat baik bagi anak maupun orang tua.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menghadapi tantangan tersebut, perempuan dituntut memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Literasi digital menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki agar perempuan mampu mendampingi, mengawasi, sekaligus memberikan edukasi kepada anak terkait penggunaan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini menempatkan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) sebagai salah satu organisasi perempuan yang memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas perempuan Indonesia. Dengan jaringan organisasi yang luas dan pengalaman panjang dalam pemberdayaan perempuan, KOWANI dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak pembentukan karakter anak berbasis keluarga di era digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama ini KOWANI telah melaksanakan berbagai program yang mendukung peningkatan kapasitas perempuan, mulai dari literasi digital, pemberdayaan ekonomi, pendidikan keluarga, hingga perlindungan anak. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan komitmen organisasi dalam meningkatkan kualitas perempuan sebagai agen perubahan sosial di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, kajian menemukan bahwa program-program yang berkaitan langsung dengan pembentukan karakter anak di era digital masih perlu diperkuat dan diintegrasikan secara lebih sistematis. Upaya yang dilakukan saat ini masih cenderung bersifat sektoral sehingga belum membentuk ekosistem nasional yang mampu menghubungkan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam satu kerangka pembinaan karakter yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tantangan lain yang dihadapi adalah masih adanya kesenjangan akses literasi digital, terutama bagi perempuan di wilayah terpencil dan daerah tertinggal. Kondisi tersebut menyebabkan tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam mendampingi anak menghadapi tantangan dunia digital.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Selain itu, faktor budaya dan sosial juga menjadi kendala tersendiri. Di sejumlah wilayah, budaya patriarki masih membatasi ruang partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan, termasuk yang berkaitan dengan pendidikan dan pengasuhan anak. Situasi ini berpotensi menghambat optimalisasi peran perempuan dalam membangun generasi yang berkarakter dan berdaya saing.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan analisis yang dilakukan, penguatan literasi digital perempuan menjadi salah satu strategi utama yang perlu dikedepankan. Melalui pelatihan yang berkelanjutan, perempuan dapat meningkatkan pemahaman mengenai teknologi, keamanan digital, serta metode pendampingan anak yang sesuai dengan perkembangan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Strategi berikutnya adalah mendorong pemberdayaan perempuan secara multidimensional. Perempuan tidak hanya berperan sebagai pengasuh dalam keluarga, tetapi juga sebagai pemimpin komunitas, penggerak sosial, dan advokat kebijakan yang mampu memengaruhi lingkungan sekitarnya untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dunia pendidikan, dan sektor swasta. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar program-program penguatan karakter anak memperoleh dukungan sumber daya, regulasi, dan jaringan yang memadai sehingga dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif ketahanan nasional, pembentukan karakter anak memiliki keterkaitan erat dengan aspek ideologi, sosial budaya, dan demografi. Anak-anak yang tumbuh dengan karakter kuat, berintegritas, serta memiliki nilai kebangsaan yang kokoh akan menjadi modal utama bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Penguatan peran perempuan pada akhirnya tidak hanya berorientasi pada kepentingan keluarga semata, melainkan juga merupakan investasi strategis bagi pembangunan bangsa. Melalui perempuan yang berdaya, berpengetahuan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, Indonesia dapat membangun generasi yang tangguh, cerdas, dan memiliki karakter kebangsaan yang kuat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai hasil kajian kepemimpinan strategis, KKP ini memberikan pesan penting bahwa ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan ekonomi, politik, atau pertahanan negara, tetapi juga melalui ketahanan keluarga yang menjadi fondasi utama pembentukan karakter generasi penerus. Oleh karena itu, penguatan peran perempuan dalam pendidikan karakter anak harus menjadi agenda bersama yang mendapat perhatian berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan demi mewujudkan Indonesia yang tangguh di era digital. (IP\/BIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan literasi strategis terus mendukung diseminasi berbagai karya ilmiah yang dihasilkan peserta pendidikan kepemimpinan nasional. Salah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1269","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan literasi strategis terus mendukung diseminasi berbagai karya ilmiah yang dihasilkan peserta pendidikan kepemimpinan nasional. Salah [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1269"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1270,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1269\/revisions\/1270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}