{"id":1267,"date":"2026-06-02T10:50:05","date_gmt":"2026-06-02T03:50:05","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1267"},"modified":"2026-06-02T10:50:05","modified_gmt":"2026-06-02T03:50:05","slug":"mitigasi-serakahnomics-di-sektor-pangan-menuju-kemandirian-ekonomi-dan-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1267","title":{"rendered":"Mitigasi Serakahnomics di Sektor Pangan Menuju Kemandirian Ekonomi dan Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Brigjen Pol Didi Hayamansyah, S.H., S.I.K., M.H., M.Han., dengan judul \u201cMitigasi Kejahatan Serakahnomics di Sektor Pangan Guna Kemandirian Ekonomi dalam Rangka Ketahanan Nasional\u201d menjadi salah satu karya strategis peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Tahun 2025 yang mengangkat isu krusial terkait tata kelola pangan nasional dan implikasinya terhadap ketahanan negara.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Karya ilmiah ini dilatarbelakangi oleh kondisi aktual sektor pangan nasional yang masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait ketidakseimbangan antara produksi dalam negeri dan kebijakan impor yang belum sepenuhnya berbasis data akurat serta integrasi sistem yang memadai.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis menyoroti fenomena yang disebut sebagai serakahnomics, yakni bentuk kejahatan ekonomi yang berakar pada perilaku serakah dan terorganisir dalam sistem distribusi pangan yang berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kajian ini dijelaskan bahwa serakahnomics bukan sekadar persoalan ekonomi konvensional, melainkan merupakan diagnosis moral terhadap perilaku aktor ekonomi yang menyimpang dari nilai-nilai kebangsaan dan keadilan sosial.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena ini tercermin dalam praktik manipulasi harga, pengendalian stok, hingga kartelisasi distribusi yang menyebabkan distorsi pasar dan merugikan petani serta konsumen secara sistemik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, dijelaskan bahwa kejahatan serakahnomics terjadi secara terstruktur dari hulu hingga hilir, dimulai dari lemahnya posisi tawar petani, praktik pengoplosan di tingkat penggilingan, hingga dominasi distribusi oleh kelompok tertentu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kondisi tersebut berdampak pada ketergantungan struktural yang melemahkan kemandirian ekonomi nasional serta mengganggu ketahanan pangan sebagai bagian penting dari ketahanan nasional.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui pendekatan analisis yang komprehensif, KKP ini menggunakan kerangka ATHG, ASTAGATRA, serta metode SWOT\u2013TOWS untuk mengidentifikasi permasalahan sekaligus merumuskan solusi strategis yang aplikatif.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Pendekatan tersebut memungkinkan penulis memetakan berbagai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang memengaruhi sistem pangan nasional secara menyeluruh dan terintegrasi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, kajian ini juga mengintegrasikan berbagai teori seperti ekonomi politik pangan, kejahatan terorganisir, hingga pembangunan berkelanjutan sebagai landasan konseptual dalam merumuskan strategi mitigasi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil analisis menunjukkan bahwa salah satu permasalahan utama adalah belum optimalnya integrasi data pangan nasional yang menyebabkan kebijakan sering kali tidak berbasis pada kondisi riil di lapangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, koordinasi lintas lembaga yang belum efektif turut memperparah kondisi karena adanya tumpang tindih kewenangan serta lemahnya pengawasan terhadap rantai distribusi pangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai respons atas permasalahan tersebut, penulis merumuskan empat strategi utama yang menjadi pilar dalam mitigasi kejahatan serakahnomics di sektor pangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Strategi pertama menekankan pentingnya penguatan kelembagaan pangan melalui digitalisasi dan integrasi satu data nasional guna menciptakan sistem yang transparan dan akurat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Strategi kedua berfokus pada penguatan kolaborasi lintas lembaga dengan memanfaatkan inovasi teknologi untuk meningkatkan efektivitas pengawasan dan pengelolaan pangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Strategi ketiga diarahkan pada penguatan cadangan pangan serta pengendalian distribusi nasional agar stabilitas pasokan dan harga dapat terjaga secara berkelanjutan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, strategi keempat menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur pangan dan sistem peringatan krisis sebagai langkah antisipatif terhadap potensi gangguan di masa depan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain strategi, KKP ini juga memberikan rekomendasi konkret kepada berbagai kementerian dan lembaga untuk memastikan implementasi kebijakan berjalan secara terkoordinasi dan terukur.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi tersebut mencakup penguatan peran Badan Pangan Nasional, optimalisasi Bulog, pemanfaatan teknologi digital, hingga peningkatan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan pangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis data, karya ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam perumusan kebijakan nasional yang lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika sektor pangan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Secara keseluruhan, KKP ini menegaskan bahwa mitigasi kejahatan serakahnomics merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan nasional Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Upaya tersebut menjadi semakin relevan dalam menghadapi tantangan global dan dinamika ekonomi yang menuntut sistem pangan nasional yang tangguh, transparan, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045. (AT\/GT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Brigjen Pol Didi Hayamansyah, S.H., S.I.K., M.H., M.Han., dengan judul \u201cMitigasi Kejahatan Serakahnomics [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1267","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Brigjen Pol Didi Hayamansyah, S.H., S.I.K., M.H., M.Han., dengan judul \u201cMitigasi Kejahatan Serakahnomics [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1267","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1267"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1267\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1268,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1267\/revisions\/1268"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1267"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1267"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1267"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}