{"id":1213,"date":"2026-04-06T11:14:34","date_gmt":"2026-04-06T04:14:34","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1213"},"modified":"2026-04-09T11:15:29","modified_gmt":"2026-04-09T04:15:29","slug":"optimalisasi-sdm-pertanian-di-era-krisis-global-untuk-mewujudkan-kemandirian-pangan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1213","title":{"rendered":"Optimalisasi SDM Pertanian di Era Krisis Global untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Brigadir Jenderal TNI, Togu Parmonangan, S.I.P., M.M., melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul \u201cOptimalisasi pemberdayaan SDM pertanian di tengah ancaman krisis pangan global guna mendukung kemandirian pangan dalam rangka ketahanan nasional\u201d, menghadirkan pemikiran strategis terkait penguatan sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan nasional. Karya ini disusun dalam rangka mengikuti Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Tahun 2025 di Lemhannas RI sebagai bagian dari kontribusi intelektual terhadap pembangunan nasional.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Krisis pangan global menjadi isu strategis yang semakin nyata dirasakan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, seiring meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok global. Kondisi ini menuntut kesiapan nasional dalam menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan dan mandiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks tersebut, sektor pertanian tidak lagi dapat dipandang sebagai sektor tradisional semata, melainkan harus menjadi sektor modern yang berbasis teknologi dan inovasi. Penguatan sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis menekankan bahwa pemberdayaan SDM pertanian merupakan proses strategis yang bertujuan meningkatkan kapasitas, keterampilan, dan kemandirian petani dalam mengelola sumber daya secara efektif dan berkelanjutan.&nbsp; Hal ini penting agar petani mampu beradaptasi dengan dinamika global yang semakin kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai tantangan masih dihadapi dalam pemberdayaan SDM pertanian, di antaranya rendahnya tingkat pendidikan petani, keterbatasan akses pelatihan, serta minimnya literasi teknologi. Kondisi ini menyebabkan kesenjangan kemampuan antarwilayah dan memperlambat adopsi inovasi di sektor pertanian.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, sektor pertanian masih dianggap kurang menarik bagi generasi muda karena rendahnya tingkat kesejahteraan dan citra sebagai pekerjaan yang kurang modern. Padahal, pertanian berbasis teknologi memiliki potensi besar untuk menjadi sektor unggulan yang kompetitif.<\/p>\n\n\n\n<p>Data menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja di sektor pertanian masih berpendidikan rendah, bahkan mayoritas hanya lulusan sekolah dasar. Hal ini berdampak langsung pada kemampuan petani dalam mengakses teknologi dan meningkatkan produktivitas.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Di sisi lain, potensi petani milenial mulai menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun jumlahnya masih perlu ditingkatkan. Regenerasi petani menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong transformasi sektor pertanian menuju arah yang lebih modern dan adaptif.<\/p>\n\n\n\n<p>Lingkungan strategis global juga turut memengaruhi sektor pertanian nasional, terutama akibat perubahan iklim yang telah menurunkan produktivitas pertanian secara signifikan.&nbsp; Kondisi ini menuntut adanya inovasi dan adaptasi berbasis teknologi.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tingkat regional, kerja sama antarnegara menjadi penting untuk mengatasi kesenjangan kapasitas SDM pertanian. Kolaborasi dalam bidang riset, pelatihan, dan teknologi dapat memperkuat ketahanan pangan kawasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, di tingkat nasional, berbagai faktor seperti kondisi geografis, demografi, dan kebijakan pemerintah turut memengaruhi efektivitas pemberdayaan SDM pertanian. Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan akses dan pemerataan pelatihan di wilayah terpencil.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah telah meluncurkan berbagai program strategis untuk meningkatkan kapasitas SDM pertanian, termasuk pelatihan berbasis digital dan program pemberdayaan petani secara masif. Salah satunya adalah program Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh yang menjangkau jutaan peserta di seluruh Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, pengembangan kewirausahaan di sektor pertanian juga menjadi fokus penting, terutama melalui program yang mendorong lahirnya petani muda yang inovatif dan berorientasi pasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, implementasi program-program tersebut masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan penyuluh, infrastruktur digital yang belum merata, serta kurangnya integrasi antarprogram.<\/p>\n\n\n\n<p>Analisis yang dilakukan dalam KKP ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kekuatan dalam bentuk dukungan kebijakan dan potensi sumber daya, masih terdapat kelemahan dan ancaman yang perlu diantisipasi secara serius.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Peluang besar sebenarnya terbuka melalui pemanfaatan teknologi digital dan momentum bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Hal ini dapat menjadi pendorong utama dalam transformasi sektor pertanian ke arah yang lebih maju.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk itu, diperlukan strategi yang komprehensif dan terintegrasi dalam pemberdayaan SDM pertanian, termasuk peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan berbasis kompetensi, serta penguatan kelembagaan petani.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis juga menekankan pentingnya sinergi antarinstansi pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan inklusif.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketahanan pangan tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga bagian dari ketahanan nasional yang menyangkut stabilitas dan kedaulatan negara. Oleh karena itu, penguatan sektor pertanian harus menjadi prioritas strategis nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui KKP ini, diharapkan lahir berbagai kebijakan yang mampu mendorong kemandirian pangan Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, optimalisasi pemberdayaan SDM pertanian merupakan langkah fundamental dalam menjawab tantangan krisis pangan global sekaligus mewujudkan ketahanan nasional yang tangguh dan berdaya saing. (AT\/GT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Brigadir Jenderal TNI, Togu Parmonangan, S.I.P., M.M., melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul \u201cOptimalisasi pemberdayaan SDM pertanian di tengah ancaman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1213","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Brigadir Jenderal TNI, Togu Parmonangan, S.I.P., M.M., melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul \u201cOptimalisasi pemberdayaan SDM pertanian di tengah ancaman [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1213","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1213"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1213\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1214,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1213\/revisions\/1214"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1213"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1213"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1213"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}