{"id":1190,"date":"2026-03-31T14:04:16","date_gmt":"2026-03-31T07:04:16","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1190"},"modified":"2026-04-07T09:08:21","modified_gmt":"2026-04-07T02:08:21","slug":"menguatkan-identitas-bangsa-di-era-global-strategi-pembangunan-kebudayaan-indonesia-menghadapi-geopolitik-populer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1190","title":{"rendered":"Menguatkan Identitas Bangsa di Era Global: Strategi Pembangunan Kebudayaan Indonesia Menghadapi Geopolitik Populer"},"content":{"rendered":"\n<p>Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Marsekal Pertama TNI Solihin, S.IP., dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional (P3N) XXV mengangkat judul \u201cPengelolaan Tantangan Pembangunan Kebudayaan Indonesia dalam Menghadapi Geopolitik Popular Guna Menjaga Norma dan Identitas dalam Rangka Ketahanan Nasional.\u201d Kajian ini menyoroti pentingnya penguatan kebudayaan nasional di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi yang membentuk dinamika baru dalam interaksi budaya dunia. Dalam konteks tersebut, pembangunan kebudayaan tidak lagi sekadar pelestarian tradisi, melainkan juga menjadi strategi penting untuk menjaga identitas bangsa sekaligus memperkuat ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkembangan global yang ditandai oleh kemajuan teknologi informasi telah mempercepat pertukaran budaya lintas negara. Budaya populer global kini hadir melalui berbagai platform digital yang mudah diakses masyarakat, terutama generasi muda. Kondisi ini menciptakan ruang interaksi budaya yang sangat dinamis, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan serius terhadap eksistensi budaya lokal.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia sendiri memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dengan ribuan etnis, bahasa daerah, serta tradisi yang berkembang di berbagai wilayah. Keragaman tersebut merupakan kekuatan strategis yang tidak hanya memperkuat kohesi sosial, tetapi juga menjadi modal penting dalam membangun citra Indonesia di tingkat global. Nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun berperan sebagai perekat persatuan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun di tengah kekayaan budaya tersebut, Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pemajuan kebudayaan. Globalisasi telah membawa pengaruh budaya asing yang begitu kuat melalui media hiburan, musik, film, hingga gaya hidup modern. Budaya populer global yang didukung oleh kekuatan industri kreatif dan teknologi digital mampu menjangkau masyarakat luas dalam waktu singkat, sehingga mempengaruhi preferensi dan pola konsumsi budaya generasi muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena dominasi budaya populer asing dapat dilihat dari tingginya popularitas musik, film, dan gaya hidup dari berbagai negara yang dengan mudah diakses melalui media sosial. Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terpengaruh karena mereka merupakan pengguna utama platform digital. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya erosi budaya lokal jika tidak diimbangi dengan upaya penguatan identitas budaya nasional.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Selain dominasi budaya asing, tantangan lain yang dihadapi adalah persaingan dalam industri kreatif digital. Industri kreatif global memiliki dukungan teknologi, modal, dan jaringan distribusi yang sangat kuat sehingga mampu menguasai pasar konten digital. Sementara itu, konten budaya lokal masih menghadapi keterbatasan dalam hal produksi, promosi, dan distribusi sehingga sulit bersaing di ruang digital yang sangat kompetitif.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya digitalisasi budaya masih relatif rendah. Banyak pelaku budaya tradisional yang belum memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan maupun mempromosikan karya budaya mereka. Akibatnya, kekayaan budaya lokal kurang terekspos di ruang digital yang saat ini menjadi sarana utama penyebaran informasi dan promosi budaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keterbatasan infrastruktur digital di beberapa wilayah juga menjadi kendala dalam pengembangan budaya berbasis teknologi. Tidak meratanya akses internet menyebabkan sebagian masyarakat belum dapat berpartisipasi secara optimal dalam ekosistem budaya digital. Padahal, pemanfaatan teknologi digital sangat penting untuk memperluas jangkauan promosi budaya Indonesia ke tingkat global.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, minat generasi muda terhadap seni dan budaya tradisional cenderung menurun. Banyak tradisi lokal yang mulai ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan gaya hidup modern. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka berbagai bentuk ekspresi budaya seperti seni pertunjukan, bahasa daerah, dan tradisi lisan berpotensi mengalami kemunduran bahkan hilang dari kehidupan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, berbagai fenomena budaya lokal juga menunjukkan bahwa budaya Indonesia masih memiliki daya tarik yang kuat. Salah satu contohnya adalah munculnya kembali perhatian publik terhadap tradisi daerah yang viral melalui media sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki potensi besar untuk berkembang apabila dikemas secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif geopolitik populer, budaya tidak hanya dipandang sebagai ekspresi identitas, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam membangun pengaruh suatu negara. Negara-negara besar memanfaatkan budaya populer sebagai bagian dari diplomasi budaya untuk memperluas pengaruhnya di berbagai kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya memiliki peran penting dalam membentuk persepsi global terhadap suatu bangsa.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, pembangunan kebudayaan harus ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi pembangunan nasional. Penguatan budaya tidak hanya bertujuan untuk melestarikan warisan tradisi, tetapi juga untuk meningkatkan daya saing bangsa di tengah persaingan global. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah memiliki berbagai regulasi yang mendukung pemajuan kebudayaan. Undang-undang dan kebijakan nasional telah memberikan landasan hukum bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu aspek penting dalam pembangunan kebudayaan adalah penguatan ekonomi budaya. Budaya memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata, industri kreatif, serta produk budaya lokal. Jika dikelola secara optimal, sektor budaya dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain ekonomi budaya, dimensi ekspresi budaya juga menjadi faktor penting dalam pembangunan kebudayaan. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan budaya merupakan indikator penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan identitas lokal.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Peran generasi muda juga menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan budaya Indonesia. Generasi muda harus didorong untuk menjadi agen pelestarian budaya melalui berbagai kegiatan kreatif yang memadukan nilai tradisional dengan inovasi modern. Dengan demikian, budaya lokal dapat tetap relevan dan menarik bagi masyarakat masa kini.<\/p>\n\n\n\n<p>Di era digital, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu strategi penting dalam pengembangan budaya. Digitalisasi budaya memungkinkan dokumentasi, promosi, dan distribusi karya budaya secara lebih luas. Platform digital juga dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal dan memahami kekayaan budaya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Penguatan kebudayaan nasional juga memiliki hubungan erat dengan konsep ketahanan nasional. Budaya merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan berbangsa yang berfungsi memperkuat identitas, solidaritas sosial, dan integritas nasional. Ketahanan budaya yang kuat akan membantu bangsa Indonesia menghadapi berbagai ancaman yang muncul di era globalisasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, pengelolaan pembangunan kebudayaan Indonesia harus dilakukan secara strategis dan berkelanjutan agar mampu menjawab tantangan geopolitik populer yang semakin kompleks. Melalui penguatan identitas budaya, peningkatan partisipasi masyarakat, serta pemanfaatan teknologi digital, kebudayaan Indonesia dapat menjadi kekuatan strategis dalam menjaga norma, identitas, dan ketahanan nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang. (AT\/GT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Marsekal Pertama TNI Solihin, S.IP., dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional (P3N) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1190","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Marsekal Pertama TNI Solihin, S.IP., dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional (P3N) [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1190","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1190"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1190\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1191,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1190\/revisions\/1191"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1190"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1190"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1190"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}