{"id":1080,"date":"2026-02-11T08:37:45","date_gmt":"2026-02-11T01:37:45","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1080"},"modified":"2026-02-26T08:39:52","modified_gmt":"2026-02-26T01:39:52","slug":"kolaborasi-hexa-helix-sebagai-pilar-strategis-ketahanan-lingkungan-nasional-di-tengah-krisis-iklim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1080","title":{"rendered":"Kolaborasi Hexa Helix sebagai Pilar Strategis Ketahanan Lingkungan Nasional di Tengah Krisis Iklim"},"content":{"rendered":"\n<p>Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang tidak terpisahkan dari agenda ketahanan nasional Indonesia, dan hal tersebut menjadi fokus utama dalam Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul \u201cPenguatan Kemitraan Hexa Helix Menghadapi Perubahan Iklim Guna Ketahanan Lingkungan dalam Rangka Ketahanan Nasional\u201d yang disusun oleh Brigadir Jenderal TNI Dwi Sasongko, S.E., M.H., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Tahun 2025 di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Karya ilmiah ini merefleksikan kepedulian sekaligus tanggung jawab strategis pimpinan nasional dalam merespons tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks dan berdampak luas terhadap keberlangsungan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam naskah KKP tersebut, perubahan iklim dipandang bukan sekadar fenomena lingkungan, melainkan ancaman multidimensional yang memengaruhi stabilitas sosial, ekonomi, politik, hingga pertahanan dan keamanan negara. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah berada pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi hingga tekanan terhadap ketahanan pangan, energi, dan wilayah pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p>Realitas empiris menunjukkan bahwa mayoritas bencana yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berkaitan langsung dengan perubahan iklim. Banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga mengancam keselamatan manusia serta melemahkan daya dukung lingkungan. Kondisi ini menegaskan bahwa isu perubahan iklim harus ditempatkan sebagai ancaman nonmiliter serius dalam kerangka ketahanan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui pendekatan Ketahanan Nasional, KKP ini menekankan bahwa menghadapi perubahan iklim tidak dapat dilakukan secara sektoral dan parsial. Diperlukan sinergi menyeluruh antaraktor strategis bangsa agar respons yang dibangun bersifat sistemik, berkelanjutan, dan adaptif terhadap dinamika lingkungan strategis global, regional, maupun nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu gagasan utama yang diangkat dalam KKP ini adalah penguatan kemitraan Hexa Helix sebagai model kolaborasi multipihak yang relevan untuk menjawab kompleksitas perubahan iklim. Model Hexa Helix melibatkan enam aktor utama, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, dan sektor keuangan, yang bekerja secara sinergis dalam satu ekosistem kebijakan dan inovasi.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Keberadaan sektor keuangan sebagai pilar tambahan dalam Hexa Helix menjadi pembeda penting dibandingkan pendekatan kolaboratif sebelumnya. Pembiayaan berkelanjutan, investasi hijau, serta pengelolaan risiko iklim dipandang sebagai kunci percepatan transisi menuju ekonomi hijau dan penguatan ketahanan lingkungan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, KKP ini juga mengungkap bahwa implementasi kemitraan Hexa Helix di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Fragmentasi kelembagaan, lemahnya koordinasi lintas sektor, ego sektoral, serta ketimpangan kapasitas antaraktor menjadi penghambat utama efektivitas kolaborasi dalam menghadapi perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, tingkat pemahaman dan literasi perubahan iklim di kalangan masyarakat dan sebagian pemangku kepentingan masih relatif rendah. Hal ini berdampak pada minimnya partisipasi publik yang substantif serta belum terbangunnya perubahan perilaku kolektif yang mendukung upaya mitigasi dan adaptasi iklim.<\/p>\n\n\n\n<p>Peran akademisi sebagai penghasil pengetahuan dan inovasi juga belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses perumusan dan implementasi kebijakan. Hasil riset dan kajian ilmiah sering kali berhenti pada tataran konseptual, tanpa mekanisme hilirisasi yang kuat menuju kebijakan publik atau praktik di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sektor dunia usaha, meskipun memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi, masih cenderung berorientasi pada keuntungan jangka pendek dan belum secara luas mengadopsi prinsip <em>Environmental, Social, and Governance<\/em> (ESG). Rendahnya insentif dan kepastian regulasi menjadi faktor yang memengaruhi minimnya keterlibatan sektor swasta dalam agenda iklim nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Media massa, yang seharusnya berperan sebagai agen edukasi dan pembentuk opini publik, juga dinilai belum optimal dalam mengarusutamakan isu perubahan iklim. Dominasi pemberitaan politik dan ekonomi jangka pendek membuat isu lingkungan kerap terpinggirkan dari perhatian publik.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui analisis ASTAGATRA dan SWOT-TOWS, KKP ini mengidentifikasi sejumlah peluang strategis yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemitraan Hexa Helix. Kerangka Ketahanan Nasional digunakan untuk memetakan keterkaitan antara aspek geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan dalam konteks perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Hasil analisis menunjukkan bahwa penguatan kemitraan Hexa Helix memerlukan kepemimpinan nasional yang mampu mengorkestrasi kolaborasi lintas sektor secara konsisten dan berkelanjutan. Kepemimpinan ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga visioner dalam mendorong transformasi sosial-ekologis menuju pembangunan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>KKP ini juga menekankan pentingnya penguatan kerangka regulasi dan insentif fiskal untuk mendorong investasi hijau dan pembiayaan iklim. Integrasi risiko iklim dalam perencanaan pembangunan dan sistem keuangan nasional menjadi langkah strategis dalam meningkatkan resiliensi ekonomi dan lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemberdayaan komunitas lokal dan penguatan kearifan lokal dipandang sebagai elemen penting dalam membangun ketahanan lingkungan dari bawah. Partisipasi masyarakat yang bermakna akan memperkuat legitimasi kebijakan sekaligus meningkatkan efektivitas implementasi di tingkat tapak.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks global dan regional, Indonesia memiliki peluang strategis untuk memainkan peran kepemimpinan dalam agenda iklim, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Penguatan kemitraan Hexa Helix dapat menjadi model kolaborasi yang tidak hanya relevan secara nasional, tetapi juga berkontribusi pada upaya kolektif menghadapi krisis iklim global.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara keseluruhan, KKP ini menegaskan bahwa perubahan iklim adalah ujian nyata bagi ketangguhan sistem ketahanan nasional Indonesia. Tanpa kolaborasi multipihak yang kuat dan terintegrasi, risiko ekologis dan sosial akan semakin sulit dikendalikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Penguatan kemitraan Hexa Helix dipandang sebagai instrumen strategis untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau, meningkatkan ketahanan lingkungan, dan menjaga keberlanjutan pembangunan nasional. Sinergi enam aktor utama menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan iklim yang bersifat lintas sektor dan lintas generasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui publikasi ini, perpustakaan diharapkan dapat menjadi ruang literasi strategis yang mendukung penyebarluasan gagasan, pengetahuan, dan praktik terbaik dalam penguatan ketahanan nasional. KKP karya Dwi Sasongko, S.E., M.H. menjadi kontribusi pemikiran yang relevan dan aktual dalam memperkaya khazanah keilmuan kepemimpinan nasional di tengah krisis iklim yang kian nyata. (AT\/GT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang tidak terpisahkan dari agenda ketahanan nasional Indonesia, dan hal tersebut menjadi fokus utama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1080","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang tidak terpisahkan dari agenda ketahanan nasional Indonesia, dan hal tersebut menjadi fokus utama [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1080","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1080"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1080\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1081,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1080\/revisions\/1081"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1080"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1080"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1080"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}