{"id":1072,"date":"2026-02-26T07:54:37","date_gmt":"2026-02-26T00:54:37","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1072"},"modified":"2026-02-26T07:54:37","modified_gmt":"2026-02-26T00:54:37","slug":"reposisi-kepentingan-nasional-pasca-keanggotaan-brics-strategi-indonesia-memperkuat-politik-luar-negeri-dan-ketahanan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?p=1072","title":{"rendered":"Reposisi Kepentingan Nasional Pasca Keanggotaan BRICS: Strategi Indonesia Memperkuat Politik Luar Negeri dan Ketahanan Nasional"},"content":{"rendered":"\n<p>Perkembangan geopolitik global yang semakin dinamis mendorong lahirnya berbagai gagasan strategis dari para pemimpin nasional, termasuk Dr. H. Dedi Supandi, S.STP, M.Si., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, melalui Kertas Kerja Perorangan berjudul \u201cAkselerasi Reposisi Kepentingan Nasional Pasca Keanggotaan BRICS Guna Mendukung Politik Luar Negeri Dalam Rangka Ketahanan Nasional.\u201d Karya ini menyoroti momentum penting ketika Indonesia resmi bergabung dalam BRICS pada Januari 2025 sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat posisi global dan ketahanan nasional di tengah perubahan tatanan dunia multipolar.<\/p>\n\n\n\n<p>Keanggotaan Indonesia dalam BRICS menandai babak baru dalam perjalanan diplomasi nasional, terutama dalam memperluas jejaring kerja sama dengan negara-negara berkembang yang memiliki pengaruh signifikan dalam perekonomian global. Keputusan ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga mencerminkan upaya nyata Indonesia untuk meningkatkan daya tawar dalam forum internasional serta memperluas akses terhadap sumber daya, teknologi, dan investasi strategis yang dapat mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perspektif ketahanan nasional, keikutsertaan Indonesia dalam BRICS dipandang sebagai peluang untuk memperkuat fondasi ekonomi, politik, dan diplomasi. BRICS sebagai aliansi negara berkembang menghadirkan alternatif kerja sama global yang lebih inklusif, sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pembentukan tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang. Hal ini selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi landasan utama diplomasi Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu peluang strategis yang diidentifikasi dalam kajian ini adalah akses terhadap pembiayaan pembangunan melalui New Development Bank, lembaga keuangan yang didirikan oleh negara-negara anggota BRICS. Dukungan pembiayaan tersebut berpotensi mempercepat pembangunan infrastruktur, memperkuat sektor industri nasional, serta meningkatkan konektivitas ekonomi yang menjadi prasyarat penting dalam meningkatkan daya saing nasional di tingkat global.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, keanggotaan dalam BRICS juga menghadirkan tantangan yang memerlukan perhatian serius. Salah satu tantangan utama adalah risiko ketergantungan ekonomi dan teknologi terhadap negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang lebih dominan. Tanpa strategi nasional yang matang, ketergantungan tersebut dapat memengaruhi kemandirian ekonomi dan melemahkan posisi strategis Indonesia dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu memastikan bahwa setiap kerja sama internasional tetap berpihak pada kepentingan nasional.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Kajian ini juga menyoroti pentingnya kesiapan internal nasional dalam mengoptimalkan manfaat keanggotaan BRICS. Ketimpangan pembangunan antarwilayah, keterbatasan kapasitas industri, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor krusial yang perlu diperkuat agar Indonesia mampu bersaing dan memanfaatkan peluang kerja sama secara optimal. Tanpa kesiapan tersebut, potensi keuntungan yang ditawarkan BRICS tidak akan dapat dimanfaatkan secara maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain faktor internal, dinamika geopolitik global turut menjadi pertimbangan strategis. BRICS sering dipandang sebagai kekuatan alternatif terhadap dominasi negara-negara Barat, sehingga keanggotaan Indonesia dalam organisasi ini menempatkan Indonesia dalam posisi strategis sekaligus sensitif. Indonesia dituntut untuk mampu menjaga keseimbangan hubungan diplomatik dengan berbagai pihak tanpa mengorbankan prinsip kemandirian dan netralitas politik luar negeri.<\/p>\n\n\n\n<p>Reposisi kepentingan nasional menjadi langkah penting dalam merespons perubahan lingkungan strategis tersebut. Reposisi ini mencakup penyesuaian kebijakan luar negeri, penguatan koordinasi antar kementerian dan lembaga, serta peningkatan peran diplomasi ekonomi sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan nasional di tingkat global. Pendekatan yang terintegrasi dan terkoordinasi menjadi kunci dalam memastikan bahwa keanggotaan BRICS memberikan manfaat nyata bagi Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks diplomasi, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai middle power yang mampu menjembatani kepentingan berbagai pihak. Posisi ini memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam menciptakan stabilitas global sekaligus memperjuangkan kepentingan nasional secara konstruktif dan berimbang. Peran aktif Indonesia dalam forum internasional menjadi bagian penting dalam memperkuat citra dan pengaruh global bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini juga menekankan pentingnya penguatan regulasi nasional sebagai landasan dalam mengelola kerja sama internasional. Regulasi yang kuat akan memastikan bahwa setiap bentuk kerja sama memberikan manfaat optimal bagi pembangunan nasional dan tidak merugikan kepentingan strategis negara. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan peluang global tanpa kehilangan kendali atas arah pembangunan nasional.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p>Selain itu, penguatan kapasitas kelembagaan menjadi faktor penting dalam mendukung reposisi kepentingan nasional. Kelembagaan yang kuat akan mampu mengelola dinamika kerja sama internasional secara efektif dan responsif terhadap perubahan lingkungan strategis. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat menjadi elemen penting dalam memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi prioritas utama dalam menghadapi era kerja sama global yang semakin kompleks. SDM yang unggul dan kompetitif akan mampu mendukung transformasi ekonomi nasional serta memperkuat daya saing Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat. Investasi dalam pendidikan dan pelatihan menjadi langkah strategis untuk memastikan kesiapan bangsa menghadapi tantangan masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari perspektif ketahanan nasional, reposisi kepentingan nasional pasca keanggotaan BRICS merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan di berbagai bidang, termasuk ekonomi, politik, dan keamanan. Ketahanan nasional yang kuat akan memastikan bahwa Indonesia mampu menghadapi berbagai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang muncul akibat dinamika global yang tidak menentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian ini juga memberikan rekomendasi strategis bagi para pembuat kebijakan untuk memperkuat koordinasi nasional, menyusun strategi nasional BRICS yang komprehensif, serta meningkatkan peran diplomasi dalam memperjuangkan kepentingan nasional. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memastikan bahwa keanggotaan Indonesia dalam BRICS memberikan manfaat maksimal bagi pembangunan nasional dan ketahanan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Keanggotaan Indonesia dalam BRICS tidak hanya merupakan peluang, tetapi juga tanggung jawab strategis untuk memperkuat peran Indonesia dalam percaturan global. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan keanggotaan ini sebagai instrumen untuk mempercepat pembangunan nasional dan memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya ini memberikan kontribusi pemikiran yang penting dalam memperkaya wawasan strategis bangsa. Kajian ini tidak hanya relevan bagi para pembuat kebijakan, tetapi juga bagi akademisi dan masyarakat luas dalam memahami dinamika geopolitik global dan implikasinya terhadap kepentingan nasional. (IP\/BIA)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkembangan geopolitik global yang semakin dinamis mendorong lahirnya berbagai gagasan strategis dari para pemimpin nasional, termasuk Dr. H. Dedi Supandi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1072","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskah-publikasi"],"uagb_featured_image_src":{"full":false,"thumbnail":false,"medium":false,"medium_large":false,"large":false,"1536x1536":false,"2048x2048":false},"uagb_author_info":{"display_name":"BI","author_link":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/?author=2"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Perkembangan geopolitik global yang semakin dinamis mendorong lahirnya berbagai gagasan strategis dari para pemimpin nasional, termasuk Dr. H. Dedi Supandi, [&hellip;]","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1072"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1072\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1073,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1072\/revisions\/1073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaan.lemhannas.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}